IMQ, Jakarta —
Minyak mentah berjangka ditutup melemah Rabu (1/2) setelah laporan mingguan menyebutkan cadangan minyak AS meningkat melebihi ekspektasi.
Minyak mentah untuk pengiriman Maret akhirnya turun 87 sen, atau 0,9%, menjadi US$97,61 per barel di New York Mercantile Exchange. Ini merupakan level terendah dalam enam pekan.
Pada sesi sebelumnya, minyak mentah turun 30 sen, atau 0,3%, menjadi US$98,48 per barel, dan selama Januari minyak melemah 0,4%.
Selama perdagangan Rabu ini minyak bergerak fluktuatif, dengan berada di zona hijau berkat dorongan dari positifnya harga saham dan melemahnya dolar AS.
Namun, laporan mengenai cadangan minyak mentah AS yang naik 4,2 juta barel langsung memberikan tekanan pada harga minyak. Analis sebelumnya memperkirakan cadangan minyak hanya naik 3 juta barel.
Sebelumnya, melemahnya dolar AS dan menguatnya kinerja saham-saham di bursa New York memacu penguatan emas berjangka untuk kedua kalinya dalam dua sesi perdagangan terakhir.
Emas untuk pengiriman April menguat US$9,10, atau 0,5%, menjadi US$1.749,50 per ons, yang merupakan level tertinggi sejak awal Desember.
Sehari sebelumnya, emas untuk pengiriman April naik US$6, atau 0,4%, menjadi US$1.740,40 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange.
Data manufaktur di beberapa negara Eropa dan juga laporan tenaga kerja sektor swasta yang positif di AS membantu menggerakkan harga logam ke area positif, dengan platinum terdongkrak 2,2%.











