IMQ, Jakarta —
Sempat menjalani pergerakan naik-turun, emas berjangka akhirnya menutup perdagangan Selasa (31/1) di level tertingginya dalam delapan pekan, dan selama sebulan ini emas melonjak hingga 11%.
Emas untuk pengiriman April naik US$6, atau 0,4%, menjadi US$1.740,40 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange.
Logam mulia ini sebelumnya menyentuh level tertinggi US$1.750,60 per ons, dan terendah di level US$1.727 per ons. Kenaikan bulanan bagi emas tercatat sebesar 11%.
Setelah naik tipis di awal perdagangan, emas kemudian melemah, mengikuti pelemahan saham di bursa New York dan komoditas lainnya, seperti minyak akibat menguatnya dolar AS.
“Kami turun dengan cepat menyusul terjadinya perubahan pergerakan euro,” ujar Jim Steel, analis logam mulia dari HSBC di New York.
Dolar mulai bergerak menguat setelah serangkaian data ekonomi AS yang negatif, yang memberikan tekanan pada emas yang berdenominasi dolar.
Harga perumahan di AS turun 1,3% pada November, penurunan ketiga kali berturut-turut. Kemudian tingkat kepercayaan konsumen juga menurun pada Januari.
Di akhir perdagangan, indeks dolar menguat menjadi 79,294 dari 79,142 pada penutupan Senin (30/1) di pasar Amerika Utara.
Tekanan terus berlanjut atas Yunani, IMF dan sektor swasta akan menyetujui restrukturisasi utang dan program talangan baru.
Sementara logam lainnya melemah, seperti perak untuk pengiriman Maret turun 27 sen, atau 0,8%, menjadi US$33,26 per ons. Namun, dalam sebulan ini perak menguat 19%.
Platinum untuk kontrak April turun US$28,20, atau 1,7%, menjadi US$1.588,10 per ons, tapi dalam sebulan naik 13%.
Palladium untuk kontrak Maret melemah US$2,15, atau 0,3%, menjadi US$686,35 per ons, dan selama sebulan naik 4,6%.
Untuk tembaga dengan kontrak Maret ditutup melemah 4 sen, atau 1%, menjadi US$3,79 per ons, dan dalam sebulan naik 10%.











