IMQ, Jakarta —
Lembaga pemeringkat internasional Moody's Investors Service menurunkan peringkat utang maskapai penerbangan Australia, Qantas Airways Ltd., Selasa (31/1). Downgrade ini sebagian dipicu oleh tingginya harga bahan bakar.
Namun, maskapai penerbangan ini tetap mempertahankan status investment grade berkat apiknya kinerja unit untuk penerbangan domestik.
Peringkat utang senior jangka panjang diturunkan menjadi 'Baa3', dari 'Baa2', dengan prospek stabil, yang menempatkan peringkat maskapai ini satu tingkat di atas status junk (sampah).
Moody's telah menempatkan maskapai ini dalam kajian untuk di-downgrade pada November, segera setelah Qantas meng-grounded seluruh armadanya selama dua hari untuk mengakhiri kisruh dengan serikat pekerja terkait dengan gaji dan kondisi tempat kerja.
"Penurunan rating itu merupakan cerminan dari perkiraan Moody's atas belanjutnya tekanan atas profil utang Qantas akibat dari gabungan dampak kenaikan harga bahan bakar, ketatnya persaingan dan lingkungan operasi yang sulit," kata Vice President dan Senior Credit Officer Moody's, Ian Lewis.
Seraya menyebutkan resolusi yang diupayakan pemerintah untuk menyelesaikan kisruh itu positif, Lewis mengatakan peringkat utang Qantas diperkirakan akan tetap di atas rating 'Baa2', khususnya setelah maskapai ini menjalankan reinvestasi armada secara substansial dalam beberapa tahun mendatang.
Diyakini, Qantas masih menjadi salah satu maskapai paling menguntungkan di dunia, dengan meningkatkan laba bersih menjadi A$250 juta pada tahun fiskal yang berakhir 30 Juni.
Namun, untuk rute internasional, Qantas mencatat kerugian tipis akibat tingginya bahan bakar dan ketatnya persaingan dari maskapai-maskapai yang didukung pemerintahan di Timur Tengah.
Sementara itu, Standard & Poor's Ratings Services pada November men-downgrade prospek atas peringkat utang investment-grade Qantas menjadi "negative" dari "stabil". Per 30 Juni, Qantas memiliki utang bersih termasuk kewajiban sebesar 6,97 miliar dolar Australia (US$7,46 miliar).











