IMQ, Jakarta —
Meski dibayangi kekhawatiran akibat masih berlanjutnya krisis ekonomi yang terjadi di Eropa dan Amerika, namun pasar properti Indonesia diprediksi akan terus bertumbuh secara positif.
Bertumbuhnya pasar properti ini memberikan peluang bagi perusahaan pengembang, PT Lippo Cikarang Tbk (LPCK), menjadi sebuah kota mandiri dengan industri sebagai penopang basis perekonomian yang solid.
Hal ini juga didukung oleh perekonomian dalam negeri yang cukup kuat, tingkat suku bunga yang rendah serta sentimen investor yang terus membaik.
Dalam pengembangan usahanya, pada tahun ini emiten Bursa Efek Indonesia berkode saham LPCK ini membidik target penjualan marketing mencapai Rp1,2 triliun atau meningkat dibanding periode yang sama 2011 yang mencapai sekitar Rp860 miliar.
Untuk pencapaian target tersebut, strategi pengembangan perseroan salah satunya adalah meluncurkan klaster baru bertajuk Vassa Residence.
Hunian yang berada di kawasan Lippo Cikarang ini menyasar kelas menengah ke atas dengan harga jual mulai dari Rp1,22 miliar per unit.
Perseroan menawarkan 102 unit hunian di Vassa Terrace dengan dua luas lahan. Tipe pertama, tanah berukuran 180 meter persegi (m2) dengan luas bangunan 159 m2 dan 168 m2, sedangkan tipe kedua, tanah ukuran 200 m2 dengan luas 184 m2 dan 193 m2.
Vassa Terrace merupakan klaster keempat yang hadir di Vassa Residence, di mana sebelumnya anak usaha Group Lippo ini telah membangun tiga klaster di Vassa Residence, yakni Vassa Lake, Vassa Wood, Vassa Lagoon dengan total hunian mencapai 384 unit.
Di samping Vassa Residence, proyek hunian yang berada di kawasan pengembangan LPCK antara lain Acacia, Florencia, Ivory Garden, Greenwood, dan Oakwood.
Selain mengembangkan hunian, perseroan juga terus menambah fasilitas umum pada lahan seluas 3.000 hektar.
Untuk menopang dan mempermudah jalur transportasi, perseroan saat ini juga mengembangkan akses tol di Km 34,7 ruas tol Cikampek, yang langsung menuju Lippo Cikarang, dan proyek ini diharapkan beroperasi pada November 2012.
Pengamat properti dari Jones LangSalle-Procon, Todd Lauchlan, menjelaskan pertumbuhan permintaan yang terjadi pada semua sektor properti sepanjang 2011 lalu diproyeksikan akan terus berlanjut pada 2012 ini.
“Ini diperkuat oleh tren penyerapan pasar dalam beberapa bulan terakhir yang masih terus menunjukkan kenaikan secara bervariasi,” ujarnya.
Selain itu, pasar properti saat ini sedang menikmati periode pertumbuhan yang sangat positif dan dinamis, dengan permintaan pada semua sektor meningkat sementara pertumbuhan pasok tidak berada pada tingkat berlebihan.
Sementara itu, Analis eTrading Securities, Budhy S M Siallagan, dalam risetnya mengatakan kenaikan target penjualan marketing yang dibidik perseroan tahun ini yang mencapai Rp1,2 triliun cukup realistis, mengingat lonjakan penjualan yang terjadi pada 2011 lalu mencapai sekitar 74% dari tahun sebelumnya.
Budhy menambahkan berdasarkan kinerja tahunan dengan rata-rata realisasi penjualan marketing menjadi sekitar 76% (berdasarkan laporan 3 tahun terakhir, dan estimasi pendapatan 2011 sebesar Rp778 miliar), maka pendapatan perseroan diperkirakan bisa tercapai adalah sekitar Rp913 miliar.
“Dari data tersebut kami memperkirakan margin laba bersih (Net Profit Margin/ NPM) 16% dari pendapatan pada tahun 2012 adalah sekitar Rp147 miliar dengan Earning Per Share (EPS) sekitar Rp211 per saham,” tuturnya.
Pada penutupan perdagangan Senin (30/1), saham LPCK berada pada level Rp1.950 per saham, dengan volume sebanyak 2,18 juta lembar saham senilai Rp4,16 miliar.











