IMQ, Jakarta —
Setelah penutupan IHSG Senin (30/1) anjlok diiringi dengan net selling asing yang cukup besar sekitar Rp757 miliar, MNC Securities memperkirakan bursa Indonesia akan sedikit 'kalem' penurunannya.
Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang memaparkan IHSG tengah menantikan data inflasi Januari yang diperkirakan berkisar antara 0,5-0,7%, di tengah terjadinya aksi ambil untung (profit taking) di pasar komoditas.
Harga minyak ditutup turun 0,66%, emas pun tiarap 0,24%, nikel ikut jatuh 1,82%, timah anjlok 1,74%, serta CPO turun 1,50%.
"Selain itu, investor global pun tengah mengawasi dengan sangat perkembangan terbaru dari Portugal yang diperkirakan memerlukan dana talangan baru, setelah semalam yield obligasi Portugal dibandingkan obligasi Jerman 10 tahun berbeda 1.500 basis poin," kata Edwin dalam risetnya Selasa (31/1).
Padahal, sambungnya, pembicaraan mengenai dana bantuan kedua Yunani masih berlangsung alot.
Walaupun Dow Jones sempat turun tajam 130 poin di awal perdagangan akibat kekhawatiran mengenai penyelesaian utang Yunani, setelah Yunani 'marah' atas usulan Jerman yang ingin membentuk suatu badan pengawas sebelum diluncurkannya paket bantuan kedua, yang kemudian ditolak Yunani, indeks saham unggulan ini penurunannya perlahan berkurang.
Dow turun tipis 6,54 poin (0,05%), diikuti dengan naiknya The CBOE Volatility Indeks di atas level 19, setelah The Fed menyatakan terjadi kenaikan penyaluran kredit sektor komersial dan konsumsi, serta naiknya consumer income.
"Hari ini, IHSG diramal bergerak di kisaran 3.869-3.954," tuturnya.
Pergerakan IHSG mencerminkan pola 'black opening Marubozu' disertai dengan net selling asing dalam jumlah yang besar sekitar Rp757 miliar, mengindikasikan pada Selasa ini (31/1), IHSG berpeluang melanjutkan penurunannya.
Dengan demikian, ia merekomendasikan beberapa saham untuk dilakukan 'BOW' (buy on weakness), antara lain Astra International Tbk, United Tractors Tbk, Bank Negara Indonesia Tbk, Bank Rakyat Indonesia Tbk, Jasa Marga Tbk, dan Alam Sutera Tbk.











