IMQ, Jakarta —
Tak hanya menjatuhkan harga emas, penguatan dolar AS, Senin (30/1), juga memicu pelemahan harga minyak mentah. Selain itu, tekanan terhadap harga minyak juga berasal dari zona euro yang tak kunjung tuntas upaya penyelesaian krisis utangnya.
Situasi di zona euro yang belum menentu hingga saat ini memicu kekhawatiran terhadap prospek permintaan minyak.
Minyak mentah untuk pengiriman Maret ditutup turun 78 sen, atau 0,8%, menjadi US$98,78 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak mentah berakhir di zona negatif dalam dua sesi perdagangan terakhir.
Sedangkan harga bensin untuk pengiriman Februari ditutup turun 1,9% menjadi US$2,88 per galon. Pada perdagangan akhir pekan lalu, harga bensin naik hampir 3% dan mencapai level tertingginya sejak Agustus.
Sebelumnya, emas untuk pengiriman April ditutup melemah US$1, atau 0,1%, menjadi US$1.734,40 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange. Emas sempat berada di level terendah US$1.718,80 per ons, namun hampir sepanjang perdagangan selalu berada si zona positif dan bahkan pernah menyentuh level tertinggi US$1.742,80 per ons.
Penutupan di zona negatif bagi emas ini sekaligus mengakhiri penguatan dalam tiga sesi terakhir, yang sempat menembus level tertinggi dalam tujuh pekan pada perdagangan Jumat (27/1) dan bahkan mengalami kenaikan harga mingguan sebesar 4,1%.
"Short-covering atas dolar AS membuat emas jatuh, tapi pasar masih terlihat solid," kata Charles Nedoss, senior market strategist dari Olympus Futures di Chicago.
Sementara indeks dolar berada di posisi 79,142, menguat dibandingkan 78,854 pada perdagangan akhir pekan lalu.
Untuk logam lainnya juga melemah, seperti perak untuk pengiriman Maret yang turun 26 sen, atau 0,8%, menjadi US$33,53 per ons. Tembaga untuk pengiriman Maret melemah 6 sen menjadi US$3,83 per pons.
Platinum untuk pengiriman April melorot US$6,70, atau 0,4%, menjadi US$1.616,30 per ons, sedangkan palladium untuk pengiriman Maret turun US$1,65, atau 0,2%, menjadi US$688,50 per ons.











