IMQ, Jakarta —
Emas yang dalam tiga sesi perdagangan terakhir selalu 'berkilau', akhirnya meredup juga Senin (30/1) setelah investor mulai tak lagi berinvestasi di logam mulia ini sebagai safe-haven, alias untuk mengamankan aset. Apa pemicunya?
Biang keladi pelemahan harga logam mulia ini adalah menguatnya dolar AS menyusul belum tuntasnya pembicaraan seputar restrukturisasi utang Yunani, yang membuat nilai tukar euro tertekan.
Emas untuk pengiriman April ditutup melemah US$1, atau 0,1%, menjadi US$1.734,40 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange. Emas sempat berada di level terendah US$1.718,80 per ons, namun hampir sepanjang perdagangan selalu berada si zona positif dan bahkan pernah menyentuh level tertinggi US$1.742,80 per ons.
Penutupan di zona negatif bagi emas ini sekaligus mengakhiri penguatan dalam tiga sesi terakhir, yang sempat menembus level tertinggi dalam tujuh pekan pada perdagangan Jumat (27/1) dan bahkan mengalami kenaikan harga mingguan sebesar 4,1%.
"Short-covering atas dolar AS membuat emas jatuh, tapi pasar masih terlihat solid," kata Charles Nedoss, senior market strategist dari Olympus Futures di Chicago.
Sementara indeks dolar berada di posisi 79,142, menguat dibandingkan 78,854 pada perdagangan akhir pekan lalu.
Untuk logam lainnya juga melemah, seperti perak untuk pengiriman Maret yang turun 26 sen, atau 0,8%, menjadi US$33,53 per ons. Tembaga untuk pengiriman Maret melemah 6 sen menjadi US$3,83 per pons.
Platinum untuk pengiriman April melorot US$6,70, atau 0,4%, menjadi US$1.616,30 per ons, sedangkan palladium untuk pengiriman Maret turun US$1,65, atau 0,2%, menjadi US$688,50 per ons.











