IMQ, Jakarta —
Tiger Airways, maskapai berbiaya murah Singapura, Senin (30/1), menyatakan telah membeli 33% saham milik maskapai penerbangan PT Mandala Airlines, sebagai bagian dari program ekspansi di pasar regional.
Dengan investasi tersebut, maka Tiger Airways menjadi pemegang saham terbesar kedua di Mandala, yang telah melakukan program restrukturisasi keuangan setelah di-grounded pada Januari 2011 lalu akibat membengkaknya utang.
Perusahaan investasi Saratoga Group akan menguasai 51,3% saham, dan sisanya 15,7% akan dikuasai pemegang saham Mandala sebelumnya dan sejumlah kreditur.
Tiger Airways mengatakan dalam sebuah pernyataannya, seperti dilansir AFP, investasi di Mandala itu akan dilakukan melalui anak perusahaannya, Roar Aviation Pte Ltd., dan berharap izin penerbangan bagi Mandala akan diberikan bulan depan dan memulai penerbangan kembali pada April mendatang.
Mandala Airlines nantinya akan mengadopsi model low-cost- carrier (maskapai berbiaya rendah) yang dianut Tiger Airways selama ini, dan untuk operasionalnya akan menggunakan pesawat Airbus A320.
Tak hanya melayani rute penerbangan domestik, Mandala juga akan terbang ke beberapa tujuan internasional dengan radius penerbangan sekitar lima jam.
Jumlah armada, dan rute serta tujuan penerbangan akan diumumkan setelah izin terbang telah diberikan oleh pihak regulator dan otoritas penerbangan Indonesia, kata Tiger Airways.
"Mandala adalah perusahaan patungan pertama Tiger Airways dan mewakili langkah signifikan kami dalam upaya untuk meningkatkan cengkeraman kami di kawasan ini," kata CEO Tiger Airways Holdings Ltd, Chin Yau Seng.
Tiger Airways, yang memiliki operasional domestic di Australia, saat ini tengah berupaya untuk melakukan ekspansi di Asia dan tahun lalu maskapai ini memperoleh dana lebih dari Sin$158 juta (US$126 juta) melalui rights issue untuk mendanai sejumlah programnya, termasuk pembelian pesawat.
Sementara itu, akuisisi terhadap Mandala ini dilakukan di tengah upaya Tiger Airways membangun reputasinya yang hancur setelah regulator penerbangan di Australia meng-grounded layanan penerbangan domestiknya selama enam pekan tahun lalu terkait dengan aspek keselamatan.
Penghentian layanan penerbangan yang dilakukan pada Juli 2011 itu telah memicu terjadinya perombakan besar-besaran di jajaran manajemen perusahaan, yang sebagian dimiliki oleh Singapore Airlines dan perusahaan investasi milik pemerintah Singapura, Temasek Holdings.











