IMQ, Jakarta —
Kemelut yang melibatkan Iran dengan Barat terkait dengan embargo minyak asal negeri Persia itu diprediksi akan semakin menyulitkan upaya pemulihan ekonomi global, karena harga minyak mentah diproyeksikan akan melonjak hingga US$120-150 per barel.
Kepala perusahaan minyak milik pemerintah Iran, National Iranian Oil Company, Ahmad Qalehbani, mengatakan Senin (30/1) bahwa Teheran akan meningkatkan kapasitas penyulingan minyaknya di pasar domestik, ketimbang menjualnya ke pasar internasional.
Hal ini sebagai reaksi atas keputusan Uni Eropa yang mengembargo minyak Iran terkait dengan isu program senjata nuklir yang dituduhkan Barat terhadap Iran.
Embargo ini akan berlaku efektif mulai Juli mendatang, meski Iran tengah membahas kemungkinan untuk menghentikan pasokan minyak ke Eropa lebih cepat.
Iran mengatakan Uni Eropa hanya menyerap 18% dari produksi minyak negeri Persia itu dan Iran akan segera menemukan pembeli baru. Menurut Iran, embargo hanya akan menyengsarakan Eropa ketimbang Iran, dan itu terkait dengan akan melonjaknya harga minyak mentah dunia.
"Sepertinya kita akan menyaksikan harga minyak mentah berada di kisaran US$120 hingga US$150 per barel di masa mendatang," ujar Qalehbani seperti dikutip kantor berita Iran IRNA.
Sementara itu, harga minyak mentah di pasar Asia, Senin (30/1), turun di level US$99,08 per barel, dari posisi akhir pekan lalu US$99,56 per barel.











