IMQ, Jakarta —
Harga komoditas minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) diprediksi akan bergerak naik, meskipun potensi aksi ambil untung (profit taking) akan mengancam.
Demikian diungkapkan Research dan Analysis Division PT Monex Investindo Futures, Ariana Nur Akbar, di Jakarta, Jumat (27/1).
Ariana menambahkan meskipun komentar Federal Reserve sempat menaikkan prospek pemulihan pertumbuhan ekonomi global dan permintaan komoditas, namun para investor sepertinya masih akan mewaspadai perlambatan permintaan di Malaysia sebagai pusat perdagangan CPO, yang juga merupakan produsen terbesar kedua setelah Indonesia.
Sebagaimana dilaporkan badan surveyor untuk kargo pengiriman minyak sawit, Societe Generale, ekspor dari Malaysia mengalami kemerosotan sebesar 19,9% menjadi 947.401 ton dari sebelumnya 1.182.707 ton.
"Hal ini bersamaan dengan pemangkasan permintaan dari China dan India, yang notabene merupakan importir utama komoditi minyak sawit," terangnya.
Selain itu, kontrak CPO yang merupakan kontrak futures dari minyak sawit sempat dilaporkan turun 1,2% di Malaysia saat para investor melakukan aksi ambil untung kemarin. Sebelumnya investor membeli komoditas tersebut secara fisik di Malaysia, beralih ke Indonesia yang menawarkan pengiriman melalui kargo yang lebih murah terkait penurunan tarif ekspor Indonesia.
Sementara mengenai potensi harga CPO, menurut Arina, kisaran support-nya akan berada pada Ringgit Malaysia (RM)3137.
Sedangkan untuk pergerakan naiknya, kisaran resistance berada pada Ringgit Malaysia (RM) 3157 dan RM3175.











