IMQ, Jakarta —
Gerak langkah Samsung Electronics Co. di berbagai bisnis yang digelutinya terus menjadi perbincangan banyak orang. Raksasa elektronik negeri ginseng ini menikmati apiknya penjualan dari sejumlah produknya, sehingga kasnya semakin gemuk.
Selama kuartal IV 2011, Samsung bahkan mencatat kenaikan laba bersih sebesar 17%. Itu berkat sumbangan dari bisnis chip yang kian menggiurkan, sementara meski bisnis ponselnya cemerlang, tapi marjin keuntungannya menipis akibat sengitnya persaingan.
Laba dari bisnis semikonduktor menanjak ke level tertinggi sejak kuartal III 2010 setelah efisiensi biaya yang dilakukan dapat membantu mengatasi rendahnya harga dan permintaan untuk produk inti, yaitu memory chip yang digunakan pada komputer.
Sementara apiknya penjualan smartphone memberikan sumbangsih terbesar bagi kinerja keuangan perusahaan. Namun, meski penjualan ponsel melonjak 30%, bisnis telekomunikasi ini memberikan marjin laba yang lebih rendah ketimbang kuartal sebelumnya. Ini menjadi indikasi bahwa ketatnya persaingan memaksa Samsung melepas produk dengan harga rendah.
Meski tak merilis nilai penjualan ponselnya, tapi Samsung mengeluarkan volume penjualan smartphone yang mencapai 35 juta unit pada periode tersebut. Ini berarti Samsung hanya berada di posisi runner-up untuk penjualan smartphone, kalah dari Apple Inc. yang meraih penjualan sebanyak 37 juta unit.
Selama periode September-Desember 2011, laba Samsung meningkat menjadi KRW4 triliun, atau US$3,55 miliar, ketimbang periode tahun sebelumnya sebesar KRW3,42 triliun.
Untuk pendapatan tercatat mencapai KRW47,3 triliun, atau naik 13% dari KRW41,9 triliun pada periode setahun sebelumnya.
Samsung mengatakan pada tahun ini mereka akan mengeluarkan belanja modal sebesar KRW25 triliun, dengan sebesar KRW15 triliun untuk investasi di industri chip dan untuk meng-upgrade teknologi.











