IMQ, Jakarta —
Harga minyak mentah berjangka ditutup menguat Kamis (26/1), namun turun di bawah level psikologis US$100 per barel setelah pelemahan dolar AS sedikit tertahan dan juga harga saham yang mulai bergerak turun.
Minyak mentah untuk pengiriman Maret menguat 30 sen, atau 0,3%, menjadi US$99,70 per barel di New York Mercantile Exchange.
Minyak mentah sempat menyentuh level US$101,39 per barel setelah dolar jatuh ke level terendah dalam tujuh pekan dan harga saham melonjak berkat laporan keuangan sejumlah perusahaan yang melebihi ekspektasi.
Namun data makroekonomi yang beragam, dengan melemahnya penjualan rumah baru, mulai menggerus optimisme pasar, sehingga menahan pergerakan harga minyak lebih tinggi lagi dan juga membalikkan kondisi di bursa saham.
Sementara indeks dolar AS turun menjadi 79,416 dari posisi Rabu di level 79,563.
Sebelumnya, harga emas melonjak tajam Kamis (26/1) ke level tertinggi sejak awal Desember, yang dipicu kekhawatiran inflasi dan melemahnya dolar AS setelah Federal Reserve berjanji untuk mempertahankan sukubunga rendah hingga akhir 2014.
Emas untuk pengiriman Februari ditutup menguat US$26,60, atau 1,6%, menjadi US$1.726,70 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange. Ini merupakan level penutupan tertinggi sejak 7 Desember.
Sebelumnya, emas bahkan sempat menyentuh level tertinggi US$1.731,50 per ons. Pada perdagangan Rabu (25/1), harga emas melonjak lebih dari US$35 untuk menembus level US$1.700 setelah keputusan The Fed.
Langkah The Fed itu juga mendorong penguatan harga minyak dan komoditas, mendongkrak harga saham serta menekan dolar AS.
Sementara harga logam lainnya bergerak menguat mengikuti emas, seperti perak untuk pengiriman Maret yang naik 62 sen menjadi US$33,74 per ons.
Tembaga untuk pengiriman Maret menguat 7 sen, atau 1,9%, menjadi US$3,90 per ons.
Platinum untuk pengiriman April menguat US$37,20, atau 2,4%, menjadi US$1.616,80 per ons.











