IMQ, Jakarta —
Seiring dengan meningkatnya kebutuhan minyak, PT AKR Corporindo Tbk semakin diuntungkan. Sebab, bisnis distribusi bahan bakar minyak yang digeluti perseroan telah menyumbang 61% terhadap pendapatannya.
AKRA memberikan indikasi target penjualan selama 2011 dapat mencapai Rp18,6 triliun, naik 52%, sementara laba bersih diperkirakan sebesar Rp610 miliar, tumbuh 96%. Kenaikan kinerja didukung oleh pertumbuhan volume distribusi petroleum di tahun lalu yang signifikan sekitar 47% mencapai 2 juta KL.
Tahun ini, AKRA memperkirakan beberapa tank terminal untuk petroleum dan chemical yang tengah dibangun dapat beroperasi pada pertengahan tahun 2012. Dengan Demikian, kapasitas tank terminal perseroan bertambah sekitar 76.500 KL menjadi 619.150 KL.
Periset Samuel Sekuritas Yualdo Yudoprawiro mengatakan untuk mendukung tank terminal, perseroan telah mengalokasikan belanja modal (capex) sekitar Rp1,24 triliun yang berasal dari kas internal.
"Kami mengestimasikan kas internal perseroan mencapai Rp1,4 triliun," tutur Yualdo dalam risetnya 25 Januari 2012.
AKRA akan menggunakan dana itu untuk pembelian kapal-kapal, seperti kapal tongkang dan SPOB, dan termasuk biaya capex untuk tank terminal dan upgrade coal hauling road di Kalimantan (Tapin dan Muara Taweh).
Saat ini, kontribusi dari tambang batubara AKRA hanya diperkirakan mencapai Rp5 miliar dengan perkiraan produksi sekitar 7.000 ton (di bawah ekspektasi 300 ribu ton). Tahun ini, produksi batubara ditargetkan mencapai 1 juta ton.
Selain itu, infrastruktur untuk pertambangan batubara di Kalimantan seperti coal hauling road dan coal terminal di Teluk Timbau ditargetkan beroperasi pada 2013 mendatang. AKRA memberikan indikasi pendapatan pada tahun ini diperkirakan mencapai Rp24,9 triliun, sementara laba diramal sekitar Rp735 miliar.
Sementara volume distribusi petroleum ditargetkan mencapai 2,5 juta KL seiring dengan penambahan kapasitas tank terminal pada pertengahan tahun ini.
"Kami melihat pembatasan BBM bersubsidi yang akan diterapkan tahun ini tidak memberikan dampak signifikan terhadap perseroan karena pembatasan tersebut hanya ditujukan untuk mobil pribadi sementara kontribusi dari penjualan BBM bersubsidi hanya sekitar 5% dari total volume penjualan," tuturnya.
Dengan target yang agresif dibandingkan dengan estimasi Samuel, ia mempertahankan rekomendasi dan target harga AKRA. Pertumbuhan ini didukung dari potensi pertumbuhan petroleum dan logistik batubara yang masih menjanjikan.
"Saat ini, AKRA diperdagangkan pada PE 12,3 kali. Rekomendasi beli, dengan target harga Rp3.600," sarannya.











