IMQ, Jakarta —
Beralihnya tren konsumsi masyarakat ke susu cair dari susu bubuk, mendorong konsumsi susu cair naik rata-rata 8% per tahun. Alhasil, ini memberikan keuntungan bagi PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Tbk (ULTJ).
Tim riset MNC Securities memaparkan ULTJ sedang meningkatkan kapasitas produksi susu dengan membeli 1.500 sapi perah untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan impor. Saat ini, hampir 70% kebutuhan bahan baku masih berasal dari luar negeri.
"Peningkatan ini dipastikan memberikan peluang kenaikan kinerja perusahan," demikian riset MNC Securities, Rabu (25/1).
ULTJ juga berkeinginan mendongkrak penjualan pasar dalam negeri. Penjualan ekspor produsen minuman kemasan ini pada kuartal III-2011 mengalami penurunan menjadi 24%.
Saat ini, konsumsi susu di Indonesia baru sebesar 10 liter per kapita per tahun. Selain itu, pertumbuhan penduduk Indonesia sebesar 1-2% dan meningkatnya pendapatan per kapita yang berdampak pada peningkatan daya beli, menjadi alasan lainnya.
"Alhasil, perusahaan pun diuntungkan dengan konsumsi masyarakat yang besar," tuturnya.
Tahun ini, ULTJ menargetkan laba bersih melonjak 73% menjadi Rp192 miliar, dibandingkan dengan proyeksi tahun lalu Rp110 miliar. Pencapaian ini didukung dari pendapatan yang dibidik perusahaan sekitar Rp2,4 triliun, naik 16% dibandingkan estimasi tahun lalu sebesar Rp2,07 triliun.
"Guna mencapai target ini akan meningkatkan produktivitas perseroan," tuturnya.
Peningkatan produktivitas didukung oleh anggaran belanja modal sebesar Rp100 miliar yang digunakan untuk pembelian mesin robotik. Pembelian mesin robotik dapat mengurangi pekerjaan yang bersifat manual.
Seiring dengan meningkatnya kinerja, perseroan juga memperkirakan tahun ini terjadi kenaikan biaya produksi yang lebih besar dipengaruhi oleh pembelian bahan baku impor seiring pelemahan kurs rupiah terhadap dolar AS. Rencana kenaikan tarif listrik di 2012 juga akan berpengaruh pada biaya produksi, namun tidak signifikan sebab penggunaan listrik dalam produksi masih relatif kecil.
Pelemahan rupiah terhadap dolar AS akan memberi dampak yang besar bagi biaya produksi Ultrajaya. Sebab, sekitar 35% dari biaya produksi Ultrajaya menggunakan kurs dolar AS, karena sebagian besar bahan baku produksinya masih diimpor.











