IMQ, Jakarta —
Sebagai eksportir batubara terbesar kedua di dunia, Indonesia mendapatkan keuntungan dengan kenaikan permintaan batubara dari China dan India. Sepanjang 1996 sampai 2010, pertumbuhan ekspor batubara Indonesia meningkat 15,12% per tahun.
Hal ini menunjukkan pertambangan batubara di Indonesia masih memiliki banyak ruang untuk tumbuh. Pemerintah juga berencana untuk menggunakan batubara dalam menjalankan pembangkit listrik, tentunya memberikan kontribusi pada peningkatan konsumsi batubara dalam negeri yang saat ini berkontribusi kurang 25% dari total produksi batubara.
Periset e-Trading Securities Wisnu Kato memaparkan pada tahun ini akan menjadi tahun gelombang untuk pasar batubara akibat adanya perlambatan ekonomi dunia. Namun, harapan konsumsi batubara dari China dan India masih sangat tinggi. Konsumsi batubara China tumbuh 46% pada 2010, sementara konsumsi batubara India mengalami pertumbuhan dua kali lipat di tengah perkembangan ekonomi yang pesat walau produksi dalam negeri tidak dapat mengejar permintaan batubara.
Selain itu, India berencana untuk menggandakan kapasitas pembangkit listrik pada tahun ini, dengan mengimpor lebih dari 200 juta batubara. Oleh karena itu, akan terjadi penurunan permintaan dalam jangka pendek.
"Kami memperkirakan keuntungan yang signifikan pada permintaan jangka panjang, seperti China dan India tetap menjadi driver pada konsumsi batubara dunia," terang Wisnu dalam risetnya, Rabu (15/1).
Sebut saja, PT Harum Energy Tbk (HRUM). HRUM merupakan tambang batubara terbesar keenam di Tanah Air dengan volume produksi pada 2010 sekitar 7,4 juta ton. HRUM mencatatkan pertumbuhan volume sepanjang periode 2007-2010 dengan CAGR 38%. HRUM juga berintegrasi vertikal dengan infrastruktur yang memungkinkan perusahaan untuk meningkatkan efisiensi dan kehandalan pasokan.
"Kami berharap HRUM dapat mendapatkan CAR pada 2011-2014 sekitar 29% didukung oleh pertumbuhan infrastruktur yang tinggi," katanya.
Saat ini, HRUM memiliki kapasitas infrastruktur untuk memproduksi batubara hingga 20 juta ton. HRUM juga diuntungkan dengan konsesi dan anak perusahaannya, yakni Mahakam Sumber Jaya, Santan Batubara, serta Tambang Batubara Harum dengan wilayah sekitar 47.000 hetar. Saat ini MSJ dan SB sudah dioperasikan, sementara TBH akan memulai produksinya pada kuartal I-2012.
Lokasi pertambangan HRUM yang menghasilkan batubara termal berkarakteristik aspal dengan kalori berkisar 5.800 kkal/kg sampai dengan 6.400 kkal/kg untuk MSJ dan 5.400 kkal/kg-6.400 kkal/kg untuk SB.
Selain itu, HRUM telah mendedikasikan tongkang dan fasilitas transhipment melalui anak perusahaannya, yakni Layar Lintas Jaya dan Lotus Coalindo Kelautan. Selain itu, tidak semua tambang terletak di dekat garis pantai dan dalam radius 70 km memungkinkan HRUM melayani semua operasi pertambangan melalui rantai pasokan batubara yang terintegrasi.
Tahun ini, HRUM berencana menganggarkan belanja modal sekitar US$30 juta yang sebagian besar dihabiskan untuk membiayai fasilitas revitalisasi pertambangan.
"Kami percaya HRUM tidak akan mengalami kesulitan untuk membiayai capex-nya karena mereka memiliki posisi kas yang kuat," ungkapnya.
e-Trading berasumsi perusahaan berencana mengalokasikan capex pada periode 2013-2014 sekitar US$20 juta. e-Trading memiliki pandangan positif pada HRUM karena perusahaan telah mencatatkan pertumbuhan volume pada 2007-2010 dengan CAGR yang mengesankan.
"Dengan demikian, kami merekomendasikan beli untuk saham HRUM dengan potensi kenaikan 37% dari harga saat ini," tuturnya.
Penilaian ini berdasarkan perhitungan DCF 13% dari WACC . Nilai wajar perusahaan Rp12.678. Namun, e-Trading menetapkan target harga Rp10.000 karena mengantisipasi harga batubara pada tahun ini yang memberikan sentimen negatif pada sektor ini.











