IMQ, Jakarta —
Bursa Indonesia diperkirakan masih berpeluang naik, namun terbatas dalam perdagangan akhir pekan ini (20/1). Salah satu pemicunya adalah menguatnya rupiah.
Selain itu, menguatnya indeks Dow Jones sekitar 0,36%, naiknya harga komoditas seperti nikel 3,62% dan timah 0,55% , serta euforia Investment Grade dari Moody's Investor Service, dan sinyal akan diperolehanya peringkat tersebut dari Standard & Poor's.
Demikian diungkapkan Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang dalam risetnya, Jumat (20/1).
Ia juga mengungkapkan pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh menurunnya klaim tunjangan pengangguran mingguan sebesar 50.000 menjadi total jumlah penyesuaian 325.000 pada pekan lalu, dengan ekspektasinya 385.000. Inflasi Desember pun flat akibat turunnya harga bahan bakar minyak, serta harga makanan secara moderat.
Belum lagi, sambungnya, laporan keuangan Bank of America yang tercatat baik dan lolosnya tes lelang obligasi jangka panjang zona euro karena terjadinya permintaan yang kuat atas obligasi pemerintah Spanyol dengan tenor 10 tahun dengan jumlah 6,6 miliar euro, di tengah turunnya data housing start bulan Desember sekitar 4,1% menjadi 657.000 unit.
"Hari ini, IHSG akan bergerak di kisaran 3.978-4.028," kata Edwin.
Pola pergerakannya akan membentuk 'Tree White Soldiers' yang mengindikasikan 'excess demand and bullish continuation'.
Ia pun merekomendasikan beberapa saham pilihan, antara lain Intraco Penta Tbk (INTA) beli pada harga Rp770, Astra International Tbk (ASII) beli pada harga Rp78.700, Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) beli pada harga Rp3.700, Charoen Pokphan Tbk (CPIN) beli pada harga Rp2.450.











