IMQ, Jakarta —
Pertumbuhan makro ekonomi dan peringkat layak investasi yang disandang Indonesia memiliki arti penting dalam bagi perkembangan bisnis dalam negeri, tidak terkecuali bagi perusahaan pengembang properti PT Bakrieland Development Tbk (ELTY).
Sebagai pengembang superblok terbesar dalam perjalanan bisnisnya perseroan terus mengembangkan proyek lainnya seperti perumahan, hotel dan resor yang semua terletak di daerah utama.
Memiliki wilayah pengembangan dan cadangan lahan (land bank) terbesar di Jakarta Central Business District (CBD) membuat perseroan selalu diperhitungkan dalam pengembangan properti dan infrastruktur yang terkait.
Dalam menopang pengembangan bisnisnya, pada tahun ini grup usaha Bakrie tersebut akan menginvestasikan dana senilai Rp2,1 triliun, di mana dana tersebut berasal dari kas internal dan utang dengan komposisi 60% dan 40%.
Dana ini akan digunakan untuk membangun sejumlah proyek properti di Rasuna Epicentrum (Jakarta), Bogor, Sentul, dan Bali.
Di samping wilayah ini perseroan dan anak usahanya juga memiliki proyek dan pengembangan yang berada pada wilayah Malang, Sukabumi, Bekasi, Lampung, Batam, Balikpapan dan Tangerang.
Selain itu, adanya rencana Pemerintah Daerah Kabupaten Bogor membangun ruas jalan Jonggol bakal membuat perseroan semakin serius menggarap proyek kota mandiri Jonggol.
Rencananya, ruas jalan Jonggol yang dinamakan poros jalan tengah timur ini akan dibangun sepanjang 42 kilometer dengan lebar 30 meter.
Ruas jalan tol ini rencananya akan menghubungkan Bogor dengan Puncak yang selama ini seringkali mengalami kemacetan.
Analis eTrading Securities, Budhy S M Siallagan dalam risetnya yang dikutip IMQ mengatakan dengan Investment Grade yang diperoleh Indonesia diharapkan ELTY dapat memakai atau memperoleh kesempatan pendanaan yang kompetitif.
“Besarnya dana pinjaman akan tergantung dari rating perusahaan, maka kami melihat pendanaan 40% ini cukup realistis, sekali lagi melihat “cost of fund” yang dibebankan,” tuturnya.
Selain itu, fokus utama perseroan terlihat dengan adanya pengembangan proyek properti yang berintegrasi dengan infrastrukturnya. Data terakhir, per September 2011, kas dan setara kas perseroan mencapai Rp1,13 triliun.
“Mengacu dari kas yang tersedia awal tahun, dengan asumsi pertumbuhan kas rata-rata 26% per kuartalnya, maka kas dan setara kas yang tersedia sampai akhir tahun diperkirakan mencapai Rp1,42 triliun,” terangnya.
Pada penutupan perdagangan Rabu (18/1), saham emiten Bursa Efek Indonesia berkode ELTY ini berada pada level Rp146 per saham, dengan volume sebanyak 343,73 juta lembar saham senilai Rp49,25 miliar.











