IMQ, Jakarta —
Tingginya harga komoditas global menguntungkan neraca pembayaran dan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Tim riset Standard Chartered memperkirakan harga minyak bumi pada triwulan I akan menyentuh level US$85 per barel.
Demikian diungkapkan Managing Director Standard Chartered Fauzi Ikhsan dalam paparannya di seminar 'Pasca Investment Grade, what next', di Jakarta, Rabu (18/1).
Ia mengemukakan investor pesimistis atas pertumbuhan ekonomi dunia, terutama Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Kondisi ini serta merta menguntungkan harga komoditas yang masih diperkirakan akan terus melanjutkan penguatannya.
Pada triwulan I-2012, harga batubara diperkirakan akan menyentuh level US$104 per ton, emas sekitar US$1.800 per ons, beras berada di level US$630 per ton, serta kelapa sawit (CPO) berada di harga MYR3.200 per ton.
"Tren harga komoditas akan terus mengalami pertumbuhan karena orang membutuhkannya," katanya.
Ekonomi AS dan wilayah Eropa rapuh tidak akan berujung pada resesi global jilid kedua. Rendahnya suku bunga global dan melimpahnya likuiditas global tidak cukup untuk mendukung sektor rill dan bursa saham global.
"Risiko terbesar adalah memburuknya volatilitas pasar global akibat krisis Eropa yang memicu pelarian modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia," ujarnya.











