IMQ, Jakarta —
Downgrade rating Prancis oleh S&P tidak berpengaruh banyak ke pasar regional yang rata-rata pekan ini ditutup turun 0,50-1%, sehingga memberikan adanya potensi untuk terjadinya anomali pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Demikian diungkapkan Senior Reseach HD Capital, Yuganur Wijanarko di Jakarta, Sabtu (14/1).
Indeks sendiri akhir pekan ini lanjutnya, berhasil di tutup di atas resistance psikologis 3.900.
Pada penutuputan akhir pekan lalu, IHSG berhasil menguat 25,82 poin (0,66%) ke level 3,935.32. Sedangkan indeks saham unggulan LQ45 juga menguat 4.158 poin (0,60%) ke level 694,052.
Penguatan terjadi akibat tingginya aksi beli selektif yang dilakukan investor menyusul munculnya sentimen positif dari Italia dan Spanyol yang berhasil melakukan lelang obligasinya dengan yield yang lebih rendah dari bulan sebelumnya, namun dengan raupan dana yang lebih tinggi.
Mengawali pergerakan indeks pekan depan, diperkirakan akan bergerak pada kisaran support pada 3.875-3.835-3.780 dan resistance 3.990-4.050-4.125.
Beberapa saham yang layak dikoleksi antara lain saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Astra International Tbk, ASII, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BMRI).
Sementara itu, Kepala Riset MNC Securities Edwin Sebayang mengatakan ketika Dow Jones, bursa Eropa dan komoditas ditutup, berita dasyat diturunkannya rating 9 negara eropa belum muncul, hanya baru berupa ancaman bahwa beberapa negara Eropa termasuk Prancis akan diturunkan ratingnya oleh S&P.
Selain itu, pembicaraan antara Yunani dan bank kreditur terancam terhenti, di mana Yunani diperingatkan kemungkinan “Collapse” jika tidak ada kesepakatan Bond Swap dalam jangka pendek dan kesepakatan itu diharapkan dapat terjadi pekan depan.
“Berita dasyat ini diperkirakan berpotensi mengguncang bursa global termasuk bursa Indonesia pekan depan,” ulasnya.
Ini belum termasuk laporan ekonomi penting dan laporan Keuangan emiten besar Amerika yang akan segera dirilis, ujarnya.
“Pesan saya hanya sederhana, yaitu cuci habis alias jual saham-saham yang naiknya suginifikan, namun tidak punya dasar fundamental bagus,” tuturnya.











