IMQ, Jakarta —
Menutup pekan ini di awal tahun baru, pergerakan bursa Indonesia menunjukkan kehebatannya dengan menguat 60,28 poin (1,58%) ke level 3.869,42, diikuti oleh investor asing yang membukukan transaksi net buying sebesar Rp1,85 triliun.
Kepala riset MNC Securiites Edwin Sebayang mengungkapkan pencapaian IHSG ditopang oleh sentimen positif dari global dan domestik.
"Bursa Indonesia dalam satu minggu ini cukup fantastis dengan menguat 60,28 poin," ujar Edwin dalam risetnya, Sabtu (7/1).
Penguatan bursa Indonesia, katanya, didukung oleh membaiknya data non-farm payrolls pada Desember mencapai 200.000 dari ekspektasi 150.000 pekerjaan, yang kemudian mendorong turunnya tingkat pengangguran ke level terendah dalam tiga tahun terakhir, yakni 8,5%.
"Kendati ada kabar baik, namun indeks Dow Jones tidak berakhir positif, melainkan turun 55,78 poin (0,45%). Namun, dalam sepekan ini Dow naik 1,17%," katanya.
Selain itu, membaiknya sektor tenaga kerja, sektor properti dan sektor ritel ditambah membaiknya NFP dan turunnya tingkat pengangguran AS di tengah euforia Januari juga menyelimuti bursa Indonesia dengan semangat awal tahun barunya di Tahun Naga Air ini.
Kabar domestik dalam sepekan juga ikut menyumbang penguatan IHSG, salah satunya laporan Badan Pusat Statistik (BPS) di mana inflasi pada Desember 2011 tercatat sebesar 0,57%. Kelompok bahan makanan menjadi penyumbang inflasi terbesar pada bulan tersebut.
Laju inflasi tahun kalender Januari-Desember 2011 dan laju inflasi tahunan Desember 2011 terhadap Desember tahun lalu masing-masing sebesar 3,79%. Sementara itu, laju inflasi komponen inti tahun 2011 dan laju inflasi komponen inti tahunan masing-masing yakni 4,34%.
Untuk pekan depan, sambungnya, MNC memperkirakan IHSG akan lebih 'choppy, bumpy and roller coaster' ketika investor sudah mulai masuk ke pasar diperlukan kehati-hatian.
"Investor harus mengetatkan tali pengaman karena beberapa data ekonomi penting akan keluar, seperto data China, wilayah Eropa, dan AS, serta negara di wilayah Eropa yang akan melakukan lelang obligasi," telisiknya.
Ia pun menyarankan investor dapat melakukan pola trading jangka pendek dan hindari saham-saham yang 'berkolesterol tinggi' atau yang memiliki DER tinggi.











