IMQ, Jakarta —
Pasar saat ini masih belum dapat diyakinkan bahwa permasalahan di Eropa akan selesai dalam waktu singkat, sehingga membuat tekanan terhadap mata uang di luar dolar AS kemungkinan akan berlanjut pekan ini.
Demikian diungkapkan Head of Research Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, Selasa (20/12).
Menurut Ariston, hal tersebut terlihat pada pekan lalu kekhawatiran pada pasar keuangan terus merebak sehingga dolar AS menguat tajam terhadap semua mata uang utama dunia terutama terhadap Euro.
"Euro akhirnya menembus level di bawah US$1,3 yang sebelumnya berhasil bertahan selama 11 bulan," ulasnya.
Kekuatan dolar AS juga terpantau dari indeks dolar yang akhirnya menembus level 80 pekan lalu setelah bertahan selama lebih dari 11 bulan.
Ia menambahkan dolar AS menjadi “safe haven” yang lebih dominan dibandingkan aset lainnya.
“Ini mengingatkan kita pada tahun 2008 di mana pada awal-awal kepanikan dolar AS menjadi sasaran minat beli para pelaku pasar dan melepaskan aset-aset lainnya,” ujarnya.
Setelah kepanikan sedikit mereda, lanjutnya, barulah aset-aset lain yang juga dianggap aman mulai dikoleksi, seperti emas.
Selain itu, kekhawatiran bahwa Eropa kemungkinan besar tidak akan berhasil mengatasi krisis utang negara zona euro semakin menjadi-jadi setelah beberapa lembaga pemeringkat memperingatkan bahwa peringkat utang negara-negara dan perbankan Eropa, termasuk peringkat utang negara besar Eropa, dapat diturunkan.
Moody’s menurunkan peringkat utang Belgia, sementara Fitch menurunkan outlook peringkat utang Prancis.
Patut pula diperhatikan data-data fundamental yang akan dirilis, terutama yang berkaitan dengan Eropa seperti Ifo Business Climate Jerman, PDB Italia, dan pidato Presiden ECB Mario Draghi.
Data-data ini akan menunjukkan seberapa rapuhnya Eropa dan buruknya angka yang dirilis tentunya akan semakin menguatkan dolar AS.











