IMQ, Jakarta —
Pertumbuhan ekonomi Cina yang sedang mengalami perlambatan diperkirakan akan menjadi ancaman bagi pelemahnya harga minyak kelapa sawit (CPO).
Demikian diungkapkan Research dan Analysis Division, PT Monex Investindo Futures, Ariana Nur Akbar di Jakarta, Jumat (9/12).
Ariana menambahkan pergerakan harga CPO saat ini masih terus bergantung pada data ekspor yang akan dirilis oleh Intertek Testing Services untuk jangka waktu tanggal 1-10 Desember 2011.
“Data tersebut mungkin akan menunjukkan sedikit penurunan, terkait permintaan yang akan terkisis oleh masalah hutang,” ujarnya.
Sementara mengenai potensi harga CPO menurut Arina akan berada pada level resistance kisaran Ringgit Malaysia (RM)3.188 dan RM3.421. Sedangkan level support berada dikisaran RM2.647 dan RM2.927.
Sebelumnya menurut data Oil World, pada 2011 ini konsumsi CPO dunia diproyeksikan berada pada sekitar 48,91 juta ton atau meningkat 5,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 46,45 juta ton.
Selama periode tersebut, negara-negara konsumen CPO utama menyerap 62,2% atau sekitar 30,42 juta ton.
India masih merupakan negara utama konsumen CPO dunia, dengan perkiraan sampai dengan akhir 2011.
Konsumsi CPO dari negara tersebut menyerap sebesar 14% dari total konsumsi CPO dunia atau naik 1,8% dari 6,71 juta ton menjadi 6,84 juta ton.











