IMQ, Jakarta —
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 6%.
Kepala Biro Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI Difi A. Johansyah mengatakan keputusan tersebut didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap kinerja perekonomian terkini, beberapa faktor risiko yang masih dihadapi dan prospek ekonomi ke depan.
"Dewan Gubernur memandang level BI Rate saat ini masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi ke depan dan tetap kondusif untuk menjaga stabilitas keuangan serta mengurangi dampak memburuknya prospek ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia," ujarnya di Jakarta, Kamis (8/12).
Ke depan, lanjutnya BI akan terus mencermati risiko memburuknya ekonomi global dan akan terus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta memberikan stimulus untuk perekonomian domestik.
“Penerapan bauran kebijakan moneter dan makro prudensial yang bersifat counter-cyclical sangat diperlukan dalam pengelolaan makroekonomi secara keseluruhan serta untuk membawa inflasi pada sasaran yang ditetapkan yaitu 4,5%±1% pada tahun 2012 dan 2013,” ulasnya.
Difi menambahkan BI juga mencatat bahwa perekonomian dunia tahun 2011 mengalami perlambatan, terutama disebabkan oleh ketidakpastian pemulihan ekonomi dan keuangan di Eropa dan AS.
“Eskalasi krisis di Eropa, terutama pada semester II-2011, memicu tingginya volatilitas di pasar keuangan global,” ujarnya.
Ke depan lanjutnya, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat terkait dengan masih tingginya ketidakpastian penyelesaian masalah utang dan fiskal di Eropa dan AS.
“Perlambatan ekonomi global diperkirakan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik yang pada tahun 2012 diperkirakan pada kisaran 6,3%-6,7% sedangkan untuk tahun 2013, ekonomi tumbuh di kisaran 6,4%-6,8% seiring perkiraan akan membaiknya kembali ekonomi global,” paparnya.











