IMQ, Jakarta —
Seiring dengan banyaknya perusahaan baru yang mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia tidak diikuti oleh kapitalisasi pasar modal di Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB).
Menteri Perdagangan Gita Wiryawan mengakui rasio kapitalisasi pasar modal masih di bawah 50%.
"Saya rasa rasio kapitalisasi pasar modal di Indonesia terhadap PDB itu masih kurang di bawah 50%," ujar Gita Wiryawan dalam seminar Global Economic Turbulance, G-20 and APEC New Challenges and Opportunity For Indonesia' di Jakarta, Selasa (6/12).
Menurutnya, rasio kapitalisasi pasar modal saat ini baru sekitar US$400 miliar atau tidak sebanding dengan pertumbuhan PDB yang sudah mencapai US$800 miliar. Sementara, rasio kapitalisasi pasar modal Amerika Serikat terhadap PDB sudah mencapai 100%.
Kendati demikian, ia optimistis Indonesia bisa masuk ke dalam investment grade dalam kurun waktu tiga hingga enam bulan ke depan. Pencapaian ini dipastikan akan mendorong persetujuan perdagangan bebas (Free Trade Agreement) pada tahun-tahun mendatang.
"Kalau PDB kita tahun depan US$900 miliar, artinya ada penambahan FTA sekitar US$9 miliar, yang pastinya akan menggairahkan pasar modal," ungkapnya.
Kegairahan ini, lanjutnya, akan membawa peluang yang besar bagi pasar modal domestik, sehingga banyak investor asing akan menanamkan investasinya di bursa Indonesia.
Sementara itu, Direktur Utama BEI Ito Warsito mengungkapkan kapitalisasi pasar BEI tercatat hanya mencapai 50,48%, sedangkan Singapura mampu mencapai 170,82%. Pada 2015 mendatang, BEI menargetkan kapitalisasi pasar modal mencapai US$750 miliar.
"Efeknya kita harus terus menarik calon-calon emiten, karena itulah cara untuk meningkatkan pertumbuhan kapitalisasi pasar modal, selain pertumbuhan generik dalam arti pertumbuhan laba atau pendapatan," ujar Ito.
Sejak krisis keuangan Eropa dan Amerika Utara yang terjadi pada 2008-2009, terjadi pergantian orientasi ekonomi global yang saat ini beralih ke negara-negara "emerging market" seperti China, India dan juga Indonesia.











