IMQ, Jakarta —
Harga emas diprediksi akan tetap merambat naik pada tahun depan, meski krisis ekonomi global masih menjadi kekhawatiran para investor.
Head of Research and Analysis PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra mengungkapkan pendapat itu di Jakarta, Selasa (6/12).
Menurut Ariston, sekitar tiga tahun terakhir ini emas menjadi instrumen investasi yang digandrungi, dengan harga emas meroket dan mengundang banyak investor untuk berinvestasi atau pun berspekulasi di logam mulia ini.
“Rata-rata kenaikan harga emas dari 2009-2011 sekitar 26% per tahun. Dan setiap tahun, emas selalu mencetak rekor harga baru. Pada tahun 2011 ini saja rekor harga emas ada di level US$1.920 per troy ons,” ujarnya.
Ia menambahkan kenaikan harga emas ini tidak terlepas dari kondisi ekonomi dunia saat ini yang dipenuhi ketidakpastian.
“Para investor atau pelaku pasar menjadikan emas sebagai sarana lindung nilai atau aset safe haven, ketika keadaan ekonomi tidak kondusif,” ulasnya.
Selain itu, lanjutnya, dengan krisis di zona Eropa yang masih belum berakhir dan kemungkinan besar masih akan berlanjut tahun depan. Dengan demikian, harga emas masih akan nyaman untuk naik lagi atau paling tidak bertengger di level atas.
Selain itu, katanya, tahun depan kemungkinan bank sentral Amerika Serikat (the Fed) akan meluncurkan kebijakan pelonggaran kuantitatif lagi, yang istilah awamnya melakukan pencetakan uang baru untuk membantu memulihkan perekonomian AS.
“Aksi ini tentunya akan melemahkan nilai mata uang dolar dan akan membantu menaikkan harga emas,” paparnya.
Faktor fundamental pendukung kenaikan harga emas lainnya, menurut Ariston, adalah tren kenaikan kepemilikan emas pada bank-bank sentral dunia. Beberapa bank sentral seperti China, India, Rusia dan Korea Selatan berusaha meningkatkan cadangan emasnya untuk mendiversifikasi cadangan moneternya.
“Tingginya permintaan tentu saja akan meningkatkan harga emas,” tambahnya.











