IMQ, Jakarta —
Pertumbuhan kinerja para emiten di Bursa Efek Indonesia dapat digunakan sebagai justifikasi bahwa perekonomian Indonesia memang berjalan dengan baik. Terkoreksinya IHSG saat ini justru merupakan kesempatan untuk berburu saham berfundamental baik pada harga murah.
Penurunan bursa saham akhir-akhir ini terimbas dari krisis Eropa yang tidak dapat dihindari. Namun, perekonomian Indonesia masih baik sebab pengaruh krisis Eropa masih terbatas pada sektor non rill seperti saham, sementara sektor rill masih berjalan lancar.
Pengamat pasar modal Teguh Hidayat menceritakan di Indonesia, sektor bisnis yang paling besar di BEI ada tiga, yakni sektor perbankan, sektor natural resources seperti batubara, dan sektor perkebunan terutama kelapa sawit.
Di sektor perbankan, posisi emiten dengan kinerja terbaik masih dipegang oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, disusul PT Bank Mandiri Tbk. Sementara di kelas dua (second liner) terdapat PT Bank Bukopin Tbk dan PT Bank Tabungan Pensiunan Negara Tbk.
"Beberapa investor juga tertarik dengan PT Bank BJBR, namun saya kurang sependapat karena secara valuasi BJBR sangat murah dan kinerja kurang memuaskan," tutur Teguh dalam risetnya.
Di sektor batuabra, saham-saham yang bisa dicermati adalah PT Indo Tambangraya Megah Tbk, PT Resources Alam Indonesia Tbk, PT Borneo Lumbung Energi & Metal Tbk, dan PT Adaro Energy Tbk.
"Untuk Borneo dan Adaro, saham mereka sebelumnya tidak bisa direkomendasikan karena valuasinya yang sangat mahal, meskipun fundamentalnya lumayan. Saat ini, kedua saham itu terbilang cukup murah," imbuhnya.
Sementara di sektor perkebunan, terdapat PT Jawa Agra Wattie Tbk, PT Salim Ivomas Pratama Tbk, PT Sampoerna Agro Tbk, serta PT Tunas Baru Lampung Tbk. Saat ini, saham-saham perkebunan tengah tertekan oleh penurunan harga CPO sehingga penurunannya dalam beberapa waktu terakhir cukup dalam seperti saham-saham batubara.
"Namun secara fundamental, tidak ada yang ragu bahwa saham-saham kelapa sawit memiliki kualitas kinerja dan prospek pertumbuhan yang masih sangat menarik," katanya.
Ia mengakui ketika IHSG dan harga CPO mulai pulih, maka saat yang baik untuk investor memetik keberuntungan.
Selain itu, saham-saham tradisional seperti PT Astra International Tbk dan PT Charoen Pokphan Indonesia Tbk layak untuk dicermati. Di kalangan penny stock, saham-saham yang cukup bagus adalah PT Wintermar Offshore Marine Tbk, PT Surya Semensta Internusa Tbk, dan PT Alam Sutera Realty Tbk.
"Saham-saham ini memiliki fundamantal yang bagus berdasarkan kinarnya," tuturnya.
Ia menyarankan bila investor terbiasa melakukan perdagangan jangka pendek, maka investor dapat masuk setelah IHSG terkoreksi cukup dalam minimal dua hari berturut-turut dan keluar setelah IHSG rebound. Namun, bila tujuan untuk jangka panjang, investor harus menunggu sebab setiap krisisi akan mengalami puncaknya dan krisis Eropa belum menemukan puncaknya.
"Atau, Anda bisa mengambil beberapa saham untuk Anda jual kembali sekadar untuk menekan risiko loss," sarannya.
Pada akhirnya, setelah krisis Eropa melewati puncaknya, maka harga saham-saham di bursa akan kembali pulih, terutama saham-saham yang memiliki fundamental baik.











