IMQ, Jakarta —
Salah satu proyek Sinar Mas Land, Greenland International Industrial Center (GIIC), saat ini banyak diminati investor khususnya perusahaan otomotif asal Jepang.
Demikian diungkapkan Managing Director Corporate Strategy and Services Sinar Mas Land, Ishak Chandra, di Jakarta, Selasa (22/11).
Menurut Ishak, kawasan industri hijau yang berada pada kawasan Kota Deltamas Cikarang, Bekasi ini, bahkan pada zona I seluas 450 hektar sudah terjual habis.
"Sebagian besar investor di GIIC adalah perusahaan otomotif asal Jepang. Beberapa investor yang sudah berkomitmen untuk menempati GIIC adalah Takata (pabrik sabuk pengaman), Astra Otoparts, Yahata dan Shiroki,” ujarnya.
Ishak mengatakan keunggulan GIIC dibanding kawasan industri hijau lainnya adalah pihaknya menolak pemakaian batubara sebagai salah satu sumber energi yang digunakan di pabrik.
“Industri yang akan masuk dengan GIIC, selalu diseleksi dengan ketat. Salah satu seleksinya adalah material utama yang dipakai sebagai energi pabrik dan bahan baku pembuatan produk. Jangan sampai menggunakan produk yang sangat mencemari lingkungan seperti batubara,” terangnya.
Pihaknya tidak mengenal kompromi untuk Industri yang menggunakan batubara, kata Ishak.
Sementara untuk limbah cair, para calon investor juga diberikan arahan mengenai batas-batas yang harus dipenuhi oleh pabrik-pabrik yang akan menggunakan pengolah limbah yang telah disediakan oleh GIIC.
“Jadi seandainya limbah cair dari pabrik, nilainya masih melebihi batas-batas sesuai aturan kami maka pabrik tersebut harus melakukan 'pre-treatment' terlebih dahulu sebelum membuang ke tempat pengolahan limbah cair yang disediakan GIIC,” ulasnya.
Menurutnya, meskipun sebenarnya rata-rata kawasan industri telah menyediakan pengolah limbah, namun yang membedakan adalah kontrol di lapangan.
“Kami sangat ketat mengawasi batas-batas atau parameter mengenai nilai limbah, polusi udara dan tingkat kebisingan yang memang dari awal telah kami bicarakan dengan investor,” tambahnya.











