IMQ, Jakarta —
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang masih normal berada di level Rp8.500 hingga Rp9.500 menjadi indikator kuatnya Indonesia menghadapi krisis global.
Demikian diungkapkan pengamat Ekonomi Aviliani dalam acara HSBC Economic Outlook 2012 di Jakarta, Selasa (22/11).
Menurut Aviliani, meski pengaruh krisis ekonomi Eropa dan Amerika Serikat akan berlangsung jangka panjang dan mempengaruhi negara-negara lainnya termasuk di Asia, namun ekonomi Indonesia diprediksi masih akan bisa bertahan dari guncangan krisis tersebut.
"Ekonomi Indonesia tidak memiliki persoalan mendasar,” ulasnya.
Meski demikian, lanjutnya, pemerintah diharapkan dapat menjaga nilai tukar mata uang rupiah dan inflasi.
Dengan nilai tukar rupiah yang melemah maka kondisi ekspor dan impor menjadi salah satu yang terkena imbasnya. Selain itu, adanya inflasi yang tinggi akan membuat daya beli masyarakat akan berkurang.
"Saat ini ketika krisis terjadi, orang butuh dana cash. Jika likuiditas tidak ada maka rupiah akan melemah," tuturnya.
Sementara dari inflasi, katanya, inflasi Indonesia saat ini jauh di bawah India yang sudah mencapai sekitar 9%.
“Diprediksi inflasi Indonesia tahun 2012 hanya sekitar 5,2%,” ujarnya.











