IMQ, Jakarta —
Pada 2012 mendatang ekonomi Indonesia diprediksi belum aman terhadap imbas dari krisis global yang melanda kawasan Amerika Serikat dan Eropa.
Demikian diungkapkan Chief Economist HSBC untuk ASEAN, Leif Eskesen, dalam acara HSBC Economic Outlook 2012 di Jakarta, Selasa (22/11).
Menurut Leif, belum amannya Indonesia dari ancaman tersebut karena risiko terkena imbas krisis global tersebut masuk melalui jalur finansial.
“Potensi risiko krisis global melalui jalur finansial seperti pasar saham, karena tingginya modal yang mengalir masuk ke Indonesia," ulasnya.
Selain itu, secara umum ketidakpastian kondisi ekonomi global merupakan risiko yang harus diwaspadai negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Namun, ia optimistis tingginya cadangan devisa Indonesia yang ada diperkirakan akan mampu meminimalisasi dampak dari krisis ekonomi tersebut.
"Indonesia adalah negara yang berorientasi kepada ekonomi domestik, hal inilah yang melindungi ekonomi dari efek krisis ekonomi global," ulasnya.
Sementara itu, Co-Head of Global Markets HSBC Indonesia, Ali Setiawan, mengatakan dalam jangka pendek Indonesia memiliki daya tahan untuk guncangan krisis global.
Ini didorong tingginya tingkat investasi investor setelah mereka melihat upah buruh yang murah di Indonesia.
"Tingkat upah buruh yang relatif rendah, atau sepertiga dari upah buruh di China, menarik investasi masuk ke Indonesia. Ini ditunjang besarnya basis konsumsi domestik, serta demografi penduduk," katanya.











