IMQ, Jakarta —
Peningkatan kebutuhan minyak sawit sebagai penopang industri sektor lainnya membuat prospek perusahaan-perusahaan di sektor ini semakin mengkilat.
Menurut laporan Oil World, pada 2011 ini konsumsi minyak kelapa sawit (Crude Palm oil/CPO) dunia diproyeksikan berada pada sekitar 48,91 juta ton atau meningkat 5,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 46,45 juta ton.
Selama periode tersebut, negara-negara konsumen CPO utama menyerap 62,2% atau sekitar 30,42 juta ton.
India masih merupakan negara utama konsumen CPO dunia, dengan perkiraan sampai dengan akhir 2011, konsumsi CPO dari negara tersebut menyerap sebesar 14% dari total konsumsi CPO dunia atau naik 1,8% dari 6,71 juta ton menjadi 6,84 juta ton.
Sebagai salah satu produsen utama minyak sawit dan telah mengelola area perkebunan sekitar 265 ribu hektar total, termasuk inti dan plasma (petani) perkebunan di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi dengan rata-rata berusia 14 tahun. Hal tersebut tentunya memberikan peluang bagi PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) untuk menggenjot kinerjanya tahun ini.
Hingga Oktober 2011, Group usaha PT Astra International Tbk (ASII) tersebut mencatat volume penjualan minyak kelapa sawit sebesar 1,01 juta ton atau meningkat 17,7% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 889.996 ton.
Kenaikan tersebut ditopang oleh penjualan yang berasal dari domestik yang mencapai 971.119 ton atau dibanding periode sebelumnya sebesar 813.523 ton.
Sedangkan volume ekspor minyak sawit perseroan hanya tercatat sebesar 40.539 ribu ton.
Sementara dalam pengembangan usahanya ke depan, perseroan saat ini berencana mencari fasilitas pinjaman US$100 juta untuk menggantikan fasilitas pinjaman sebelumnya yang akan jatuh tempo pada tahun depan.
Saat ini perseroan masih memiliki fasilitas pinjaman US$50 juta dari konsorsium lima perbankan yang dipimpin Bank of Tokyo Mitsubishi UFJ (BTMU).
Analis Etrading Securities, Linda Lauwira dalam risetnya yang dikutip IMQ mengatakan refinancing hutang merupakan hal biasa
dalam bisnis, namun akan menjadi luar biasa bila arus kas perseroan terutama dari operasi sudah sulit bahkan tanpa belanja modal atau modal kerja.
"Jika melihat melihat posisi arus kas AALI hingga kuartal III 2011, perseroan memiliki arus kas yang sangat kuat," ujarnya.
Perseroan menurutnya, telah mempunyai dana bersih dari aktivitas operasi sebesar Rp2,7 trilliun, sehingga tidak mempunyai masalah dalam belanja modal.
"Ini terlihat dari pengeluaran capex hingga kuartal III 2011 mencapai 1,35 Trilliun," tuturnya.
Hutang baru perseroan menurutnya lebih bersifat untuk berjaga-jaga bila ada kesempatan investasi yang menarik.
Berdasarkan konsensus, analis merekomendasikan "Buy" untuk saham AALI dengan target harga (TP) rata-rata Rp23.000 per saham.
Pada penutupan perdagangan Senin, (22/11), saham AALI ditutup di level Rp21.550 per saham dengan volume sebanyak 410,50 juta lembar saham senilai Rp9,07 miliar.











