IMQ, Jakarta —
Pemerintah Indonesia mengalami kelebihan permintaan 6,5 kali atau senilai US$6,5 miliar dari penjualan sukuk global senilai US$1 miliar.
Demikian diungkapkan Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan Rahmat Waluyanto di Jakarta, Selasa (15/11).
Menurut Rahmat, pemerintah Indonesia melalui Spesial Purpose Vehicle (SPV) yang dibentuk untuk tujuan tersebut, telah menerbitkan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Global senilai US$1miliar dengan tenor 7 tahun.
“Harga 'at par' pada yield atau kuponnya 4%,” tukasnya.
Dalam penawaran sukuk tersebut, lanjutnya, sejumlah 250 investor atau senilai total US$6,5 miliar telah menyatakan minatnya.
Menurut Rahmat, penjualan ini merupakan lanjutan hasil pertemuan dari para investor di Timur Tengah pada Oktober 2011 lalu.
“Tujuan penerbitan ini akan digunakan untuk memenuhi target pembiayaan APBN 2011 dengan jumlah total penerbitan gross SBN Rp2.015 triliun,” ungkapnya.
Selain itu, ujarnya, penjualan ini bertujuan untuk diversifikasi instrumen pembiayaan APBN dan mengembangkan pasar sukuk Indonesia di pasar keuangan syariah internasional.
Dari total 250 invetor yang berminat, 30% di antaranya merupakan investor Timur Tengah, 12% investor lokal, 18% investor Eropa, 32% investor Asia dan 8% sisanya investor Amerika Serikat.
Sementara itu, dilihat dari jenis investornya, kebanyakan dari mereka adalah Fund Management, yaitu sebesar 59%, sisanya bank dan bank sentral, serta dana pensiun.
“Penerbitan obligasi ini adalah penerbitan global bond kedua, di mana settlement akan dilaksanakan pada tanggal 21 November 2011 mendatang,” ujarnya.











