IMQ, Jakarta —
Kejatuhan parah terjadi di bursa New York, Rabu (9/11), dengan indeks Dow Jones mengalami penurunan terbesar dalam sehari perdagangan selama tujuh pekan, menyusul melonjaknya biaya pinjaman Italia, yang semakin memperparah situasi krisis di zona euro.
“Yield obligasi Italia meningkat dan investor banyak melepas saham. Saya rasa ini cermin bahwa kecemasan terhadap krisis Eropa masih membayang. Saya tidak berpikir investor jangka panjang akan keluar karena Silvio Berlusconi tak lagi menjadi perdana menteri Italia," Kata Bob Pavlik, chief market strategist di Banyan Partners.
Setelah jatuh hingga 433 poin, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 389,24 poin, atau 3,2%, di level 11.780,94. Ini merupakan penurunan terbesar dalam sehari perdagangan sejak 22 September, saat indeks saham blue chip ini ambruk 391,02 poin, atau 3,5%.
Indeks Standard & Poor’s 500 turun 46,82 poin, atau 3,7%, menjadi 1.229,10, sementara indeks Nasdaq Composite rontok 105,84 poin, atau 3,9%, menjadi 2.621,65.
Biaya utang Italia kian membengkak setelah yield obligasi berdurasi 10 tahun menembus angka 7%, yang langsung memukul pasar saham dan euro.











