IMQ, Jakarta —
Pasar uang yang likuid dan efisien akan mempengaruhi perkembangan segmen pasar lainnya karena perannya terutama dalam meminimalkan risiko ketidakcocokan likuiditas (mismatch liquidity).
Demikian diungkapkan Deputi Gubernur BI Muliaman D Hadad dalam seminar bertajuk "Memanfaatkan Capital Inflow dan Mengantisipasi Resesi Global" di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (7/11).
Menurut Muliaman, pasar uang akan mendorong perkembangan pasar Surat Berharga Negara (SBN), di mana investor tidak perlu khawatir terkait risiko ketidakcocokan likuiditas apabila membeli SBN yang jangka waktunya bisa mencapai 30 tahun.
“Minimal risiko tersebut akan mempengaruhi harga di pasar SBN, sehingga pemerintah tidak perlu membayar terlalu mahal untuk setiap penerbitan SBN," tukasnya.
Ia juga menambahkan pasar uang juga mendorong perkembangan alternatif pembiayaan selain bank.
“Berkembangnya SBN akan berdampak positif pada terbentuknya yield curve yang wajar dan kredibel terhadap surat berharga. Ini juga akan menjadi acuan baik bagi perbankan dalam penetapan suku bunga dana dan kredit, serta bagi korporasi dan investor dalam pasar obligasi korporasi,” ulasnya.
Lebih jauh ia memaparkan Indonesia akan menghadapi situasi yang menjadi pemicu instabilitas di pasar keuangan.
“Meningkatnya basis investor apabila Indonesia peringkat ratingnya menjadi investment grade,” tuturnya.
Di samping itu, ancaman dari large dan sudden capital reversal merupakan konsekuensi dari besarnya modal yang masuk mulai 2010.











