IMQ, Jakarta —
Masuknya modal asing (capital inflow) layaknya pedang bermata dua. Di satu sisi dinanti tetapi di sisi lain perlu diwaspadai.
Dalam kata sambutannya dalam seminar 'Memanfatkan Capital Inflow dan Mengantisipasi Resesi Global' di Jakarta, Rabu, Deputi Gubernur Bank Indonesia Halim Alamsyiah menyebutkan capital inflow jika dimanfaatkan dengan optimal dan terkendali dapat meningkatkan modal perekonomian di Indonesia sehingga dapat mendorong laju perekonomian.
"Namun, sebaliknya capital inflow juga dapat mengakibatkan ancaman bagi perekonomian Indonesia, khususnya sektor keuangan," ujar Halim.
Ia menambahkan selain meningkatkan cadangan devisa negara serta mendorong apresiasi rupiah, terdapat cara untuk mendorong pemanfaatan capital inflow bagi kemajuan pembangunan Indonesia.
Pertama, dengan mengarahkan aliran modal masuk untuk membiayai sektor usaha, antara lain dengan memberikan stimulus pada pasar ekuitas untuk menggiring korporasi melakukan IPO dan penerbitan obligasi.
"Kita patut bergembira karena sampai dengan akhir tahun 2010, jumlah perusahaan yang melakukan penawaran umum perdana saham meningkat 84,62%, dari 13 perusahaan menjadi 24 perusahaan, dengan nilai emisi Rp29,51 triliun, atau naik 6 kali lipat dari tahun sebelumnya," papar Halim.
Sementara, kata dia, penawaran surat utang, sukuk korporasi pada 2010 mencapai Rp113,5 triliun, naik 50% digunakan untuk ekspansi usaha.
Kedua, pemerintah dapat memanfaatkan dana yang masuk untuk mempercepat pembangunan di sektor infrastruktur. Infrastruktur yang baik bukan hanya akan mendorong lebih banyak investor yang akan masuk, namun juga dapat menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
"Terlebih lagi, sektor perbankan sebagai sumber pembiayaan cenderung enggan membiayai jangka panjang karena mereka akan terpapar risiko mengalami missmatch dengan sumber pendanaan yang diperoleh untuk jangka panjang," tuturnya.
Ketiga, tingginya minat investor asing untuk berinvestasi dapat digunakan untuk memperdalam pasar keuangan domestik Indonesia. Ketersediaan bagi instrumen pasar keuangan dan dilengkapi dengan regulasi yang transparan. Dan bila diimplementasikan secara disiplin akan menjadikan pasar keuangan Indonesia menjadi lebih dalam, likuid dan kuat dalam menghadapi krisis.
"Namun, masuknya dana asing secara cepat dalam jumlah yang banyak juga dapat menimbulkan risiko bagi sistem keuangan kita," selorohnya.
Risiko itu, lanjutnya, di antaranya melemahnya daya saing ekspor karena apresiasi nilai tukar yang melampaui kondisi fundamentalnya, risiko terjadinya asset price bubble, risiko meningkatnya kerentanan di pasar keuangan pada saat terjadi pembalikan, meningkatkan tekanan inflasi dan menjadikan pengelolaan moneter semakin sulit dan kompleks.
"Untuk itu, kami sudah menyiapkan langkah-langkah pencegahan dengan menerapkan kebijakan nilai tukar yang fleksibel, mengakumulasi cadangan devisa sebagai self insurance apabila capital reversal terjadi, menerapkan liquidity management strategy dengan menaikkan GWM valas bank dari 5% menjadi 8%, menerapkan GWM LDR Rupiah, serta kebijakan makroprudential yang bertujuan mencegah masukknya hot money," pungkasnya.











