IMQ, Jakarta —
Sejauh ini KTT G20 Perancis belum menghasilkan kesepakatan apapun bagi perekonomian global termasuk Indonesia. Pasalnya hampir semua waktu, energi dan perhatian tersita habis untuk menemukan solusi terbaik bagi krisis utang Eropa yang semakin mencemaskan. Fokus utama adalah “memaksa” Yunani menaati.
Fokus utama adalah “memaksa” Yunani menaati hasil KTT Eropa berupa bail out dan tetap berada di UE. Yunani merespon melalui sebuah langkah terobosan dengan membentuk semacam “unity government”. Unit ini direncanakan akan mengamankan pembayaran bailout financing beberapa saat lagi. Langkah PM Yunani George Papandreou ini akibat tekanan pihak ketua opsisi, Samaras dan dinilai berisiko bagi karier politiknya.
Namun fokus masalah segera begeser ke Italia, yang mengalami masalah serupa dengan Yunani. Pasar global kembali merespon negatif masalah perekonomian Italia termasuk Spanyol, Irlandia dan Portugal. Dengan demikian KTT G20 kali ini terus berkutat pada masalah krisis utang super besar Eropa ketimbang pemulihan ekonomi global secara umum. Hal tersebut dapat dipahami karena begitu peliknya solusi untuk Eropa tersebut.
KTT 20 negara ekonomi terbesar dunia ini juga diharapkan dapat melahirkan beberapa kebijakan penting terkait “darkening outlook” ekonomi global pada 2012. Para pemimpin ekonomi dunia sudah berinisitif melahirkan beberapa kebijakan strategis seperti “code of conduct” dalam pengelolaan capital inflow dan outflow dalam kerangka capital account regulation untuk meredam “currency war”, disiplin fiskal, austerity measure, dan ketidak-keseimbangan ekonomi global.
Indonesia sejauh ini belum mempunyai daya tawar yang kuat sehingga hanya mengikuti agenda KTT G20 saja. Ini hal yang lumrah, karena ukuran ekonomi kita yang masih kecil, jauh dibandingkan China misalnya. Namun, Indonesia dapat menunjukkan beberapa kebijakan yang lebih sektoral, misalnya terkait pertambangan, perkebunan dan kehutanan dalam rangka green economy.
Hanya dengan menunjukkan pertumbuhan ekonomi domestik yang sehat dan terencana baik saja sudah memasukan Indonesia ke dalam pantauan radar investasi global.
OutlookPerekonomian Indonesia
Indonesia yang memiliki indikator makro cukup menjanjikan dan diprediksi dapat terus menjaga kinerja ekonominya pada 2012. Sekalipun dampak krisis global akan berpengaruh, namun mengaca pada krisis 2008 lalu, pertumbuhan ekonomi (PDB) kita diestimasi berada pada kisaran 6-6,2%. PDB dapat lebih baik lagi jika pemulihan ekonomi global berjalan sesuai ekspektasi.
Inflasi juga diprediksi akan turun kembali dan terkendali sehingga BI rate dapat dipangkas 25 bps lagi menjadi 6,25%. Namun kualitas pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap buruk karena pertumbuhan PDB tidak sejalan dengan kenaikan Indeks Pengembangan Manusia (IPM-HDI) yang dirilis UNDP.
Turunnya suku bunga acuan akan membuat SUN dan obligasi korporasi menjadi semakin menarik bagi investor global. Rasio utang terhadap PDB dapat cenderung turun hingga 24% dan meningkatnya capital inflow ke emerging market. Secara umum perekonomian Indonesia masih sangat tergantung pada konsumsi domestik ketimbang investasi pada 2012.
Selain itu, rangkaian indikator makroekonomi AS yang terus membaik dan ekspektasi pemulihan ekonomi Eropa semakin tinggi sehingga potensi double-dip recession semakin kecil. Namun fluktuasi pemulihan Eropa tampaknya akan terus menghantui pemulihan ekonomi global sepanjang 2012.











