IMQ, Jakarta —
Emas ditutup menanjak, Selasa (8/11), dan mencatat level tertinggi dalam hampir tujuh pekan. Kondisi ini dipicu oleh melemahnya dolar AS, namun harga emas gagal menembus level psikologis US$1.800 per ons di tengah isu krisis Eropa yang terus membuat pasar bergejolak.
Emas untuk pengiriman Desember naik US$8,10, atau 0,5%, menjadi US$1.799,20 per ons di Comex, divisi dari New York Mercantile Exchange. Sebelum penutupan, emas sempat menyentuh level tertinggi US$1.804,40 per ons.
"Isu harian yang mempengaruhi pasar adalah soal krisis Eropa dan aksi ambil untung jangka pendek, yang membuat gerak laju emas terkendali," kata Jeff Wright, managing director di Global Hunter Securities.
“Meski Italia tidak memberikan dampak langsung terhadap emas,” kata Wright. “Instabilitas di Italia terus memanaskan kecemasan investor bahwa krisis utang Eropa belum ada tanda-tanda bakal berakhir, dan bahkan dapat menyebar ke wilayah selatan Eropai.”
Selain itu, kabar yang menyebutkan bahwa Jerman tidak akan menjual cadangan emasnya untuk meraih dana terkait skenario dana talangan merupakan pertanda baik bagi emas untuk terus melanjutkan tren penguatan dalam beberapa pekan mendatang.











