IMQ, Jakarta —
Dalam berinvestasi kita harus memiliki karakter seorang investor yang sesungguhnya yaitu memahami risiko yang akan terjadi dan mengatahui cara mendapatkan imbal hasil yang wajar, bukan berperilaku seorang penabung yang senantiasa mencari aman sekalipun nilai uangnya terus tergerus inflasi.
Bukan pula sebaliknya berperilaku sebagai seorang trader yang agresif mengikuti pergerakan pasar modal melalui berbagai “tools’ atau perkakas yang njlimet.
Seorang investor sebaiknya memiliki visi, misi dan tujuan yang jelas, gamblang dan terukur tentunya. Visi, misi dan tujuan seorang investor dapat saja berbeda dengan investor lainnya dengan berbagai alasan. Penetapan visi, misi dan tujuan ini tentu akan memudahkan seorang investor menggapai target-target yang akan dicapainya sesuai dengan periode dan tahapan kehidupannya.
Penciptaan misi, visi dan tujuan pada umumnya terkait erat dengan tingkat kecerdasan, emosional, kebijakan, besaran modal sampai usia investor yang bersangkutan. Dalam mencapai upaya tujuan tujuan, seorang investor harus mempetimbangkan beberapa faktor utama yaitu(Sembel-5SI):
• Kompetensi
• Motivasi
• Relasi
• Investasi
• Reputasi
Kepribadian (personal trait) seseorang investor menjadi kunci penting atas segala keberhasilan atau kegagalan berinvestasi saham. Perilaku paling mendasar dalam berinvestasi adalah pengendalian temperamen dan selalu rasional yang didasari kejernihan pikiran.
Market selalu dipenuhi dengan aroma serakah (greedy) dan ketakutan (fear) yang bermula dari pikiran irasional dan pengendalian temperamen yg buruk. Karenanya faktor kepribadian menjadi penting untuk diperhatikan. Sehingga jika ingin menjadi investor yang piawai kita harus mengenali profil diri sendiri (know your profile).
Mungkin ini langkah awal yang jarang sekali dilakukan rekan-rekan pelaku investasi saham. Selanjutnya, personal trait tersebut harus dikombinasikan dengan preferensi terhadap risiko (risk preference). Kombinasi antara keduanya (personal trait dan risk preference) dapat menjadi peta untuk mencari jenis kendaraan investasi yang cocok bagi seorang investor untuk berinvestasi. Jadi setelah seseorang mengenali profil dirinya terkait investasi maka bisa jadi dia tidak cocok berinvestasi saham.
Jonathan Myers, seorang psikolog yang juga menjadi investor membagi investor menjadi 6 kelompok utama berdasarkan kepribadiannya, yaitu:
1. Investor Hati-Hati (Cautious)
2. Investor Emosional (Emotional)
3. Investor Teknis (Technical)
4. Investor Sibuk (Busy)
5. Investor Santai (Causal)
6. Investor Cerdas (Informed)
Selanjutnya harus dipertimbangkan preferensi diri kita terhadap risiko investasi tentunya. Preferensi risiko secara umum dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu risiko rendah, menengah dan tinggi.
Kepribadian yang sama dari beberapa investor bukan jaminan memiliki preferensi risiko yang sama juga. Bisa saja preferensi risiko berbeda satu investor dengan lainnya sekalipun mereka memiliki kepribadian yang sama.
Sebagai contoh: dua investor bertipe emosional ternyata memiliki preferensi terhadap risiko yang berbeda. Hal ini disebabkan manusia memiliki keunikan khas satu dengan lainnya.
Lalu apa yang dimaksud dengan risiko investasi? Secara sederhana risiko diartikan sebagai variabilitas imbal hasil (return) investasi yang diekspektasikan investor. Investasi berisiko tinggi dipahami sebagai investasi yang imbal hasilnya berfluktuatif.
Nah, saham merupakan jenis instrumen investasi berisiko tinggi karena sangat fluktuatif terhadap dinamika perekonomian global, regional, nasional, sektoral, industri bahkan aksi korporasi. Market selalu dihujani berita baik ataupun berita buruk yang kerap mengubah persepsi investor untuk bertindak berlebihan (overreaction) terhadap berita yang datang.
Perilaku overreaction inilah yang sering menggerakkan harga saham menjadi overvalued ataupun undervalued dari rata-rata nilai wajarnya. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa apapun kepribadiannya, seorang investor saham pada umumnya memiliki preferensi terhadap risiko sedang-tinggi.











