IMQ, Jakarta —
- Pekan lalu optimisme merebak di kalangan pelaku pasar yang menyebabkan dolar AS melemah dibandingkan mata uang utama dunia, meskipun situasi di Eropa masih menjadi faktor yang memberatkan sentimen terhadap risiko untuk melaju lebih kencang.
Pembicaraan mengenai kemungkinan pemberlakuan pelonggaran kuantitatif ke-3 (QE3) dari bank sentral AS, mendorong mata uang utama dunia menguat dibandingkan dolar AS.
Perkembangan di Eropa masih akan menjadi fokus pasar pekan ini. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Eropa yang digelar Minggu (23/10) masih belum usai dan kemungkinan masih akan diteruskan hingga Rabu pekan ini (26/10). KTT Eropa akan berusaha mengeluarkan solusi yang komprehensif yang selama ini masih belum jelas arahnya.
Persoalan Eropa terkonsentrasi pada Yunani. Apakah Yunani akan diberikan status default atau tidak? Pembicaraan yang berkembang kemungkinan akan disetujui pemangkasan utang yang akan dibebankan ke pihak swasta secara sukarela sebesar 21%.
Namun, pemikiran ini segera termentahkan kembali karena negara besar seperti Jerman menginginkan partisipasi lebih dari pihak swasta, yakni sebesar 60%, sehingga tidak terlalu membebani negara.
Efek dari pemangkasan utang ini akan berdampak negatif ke para kreditur Yunani, yakni perbankan dan institusi lainnya. Pihak kreditur ini akan kehilangan uangnya dan mengikis permodalannya sehingga membutuhkan juga injeksi modal baru. Hal ini juga akan menjadi pokok pembahasan KTT Eropa pekan ini.
Masalah lain yang akan dibahas di KTT Eropa adalah peningkatan dana institusi European Financial Stability Facility (EFSF) agar mampu berperan lebih besar untuk membantu menyelamatkan negara-negara yang terkena krisis utang sehingga masalahnya tidak menyebar ke seluruh kawasan.
Saat ini dana yang dimiliki EFSF adalah sebesar 440 miliar euro, tapi karena sudah dipakai untuk mem-bailout Yunani, Irlandia dan Portugal, kekuatannya hanya sekitar 250 miliar euro. Angka ini dianggap belum cukup untuk memberikan ketenangan di Eropa, apalagi bila negara besar seperti Spanyol dan Italia ikut terseret krisis utang.
Euro terhadap dolar AS masih mempertahankan potensi rebound-nya dengan resisten dekat di sekitar level 1.3980. Bila ini tembus dapat memacu pergerakan ke arah 1.4130. Sementara support di sekitar 1.3790 dan 1.3640. Bila level 1.3640 ini tembus, maka pergerakan naik akan tertunda.
Senada dengan rekannya, poundsterling terhadap dolar AS juga masih melaju naik dan akan menemui resisten di kisaran 1.6000. Support berada di sekitar level 1.5900 dan 1.5750.
Untuk dolar Austrlia terhadap dolar AS tampaknya sudah nyaman di atas level parity (1.0000) dan dapat meneruskan penguatannya ke level 1.0500 sepanjang support-nya di 1.0350 mampu bertahan. Penembusan level 1.0300 dapat membawa dolar Australia berkonsolidasi di sekitar level 1.01-1.03 lagi.
Sementara dolar AS terhadap yen Jepang melemah dan membuat level terendah baru di 75,79. Tampaknya penguatan yen tidak mampu tertahan lagi apalagi ditambah kemungkinan kebijakan QE3 diterapkan U.S Federal Reserve. Level 76,60 kini menjadi level resistennya, sedangkan support terdekat di 76,00.
Emas kembali rebound dengan resisten terdekat di kisaran 1.666 dengan catatan support di 1.643 mampu bertahan.
Lain lagi dengan minyak mentah WTI yang terus melanjutkan pergerakan naiknya dengan resisten di kisaran 90,50. Sementara support di kisaran 86,80.











