IMQ, Jakarta —
Persoalan utang Yunani yang diambang default ini tentu saja akan menyeret kepentingan para stakeholder Negara tersebut terutama yang memiliki eksposure yang tinggi dengan Yunani. Sejauh ini Perancis dan beberapa Negara Eropa Barat akan mengalami masalah keuangan serius jika masalah utang Yunani tidak terselesaikan dengan komprehensif. Bahkan stabilitas keuangan EU akan terkena dampak serius dan pasar finansial global akan jatuh kembali.
Masalah keuangan Yunani adalah masalah klasik fiskal yang tidak proporsional antara pertumbuhan ekonomi (PDB) dengan peningkatan utangnya. Jelas ini masalah yang sangat fundamental. Solusinya adalah Yunani harus mampu meningkatkan pendapatan melalui pertumbuhan ekonomi wajar dan sehat sekaligus terus melakukan efisiensi (penghematan) pengeluaran (expenditure)-nya. Jelas ini sangat sulit dilakukan Yunani, mengingat akumulasi pertumbuhan PDB negatif 15% dalam 3 tahun terakhir.
Kebijakan Write Down dan Bail Out
Kebijakan KTT down 50% utang Yunani bukan solusi substansial justru berisiko sosial-ekonomi tinggi. Kebijakan tersebut jelas akan melukai pemegang obligasi Yunani, terutama beberapa investment bankers dari Perancis dan sebagian Eropa Barat. Sejauh ini pemegang obligasi sudah me-write off 20-23% utang Yunani. Bahkan terbuka kemungkinan hair cut hingga 75-80% dan peningkatan jumlah write off yang membuat perbankan menggelepar.
Tentu akan banyak bank besar Eropa yang kolaps karena sebagian besar pemegang obligasi sampah tersebut adalah pihak perbankan. Kebangkrutan bank-bank besar tentu harus disertai dengan rekapitalisasi yang massif dan belum tentu bank tersebut mampu secara finansial. Maka negaralah yang harus merekapitalisasinya karena jika tidak akan menimbulkan kecemasan nasabah yang memicu penarikan kas dalam jumlah besar (rush).
Maka masalah fiscal Yunani akan menjadi krisis financial investment banker seperti 2008 lalu. Hal ini akan menciptakan ketidakpastian baru dalam struktur finansial global dan kerapuhan pemulihan ekonomi Eropa sendiri. Solusi substansial adalah write down dan memberikan peluang tumbuh ekonomi Yunani sehingga pendapatannya meningkat bertahap dalam 5 tahun mendatang. Karena tanpa pertumbuhan PDB, maka dipastikan solusi keuangan seperti write down atau hair cut, dan bail out akan sulit mengeluarkan Yunani dari kubang krisis utangnya.
Indeks KOF employment indicator Swiss kemarin melaporkan bahwa per Oktober berada pada zona negative dan hal ini merupakan kondisi terburuk sejak 2010. Write off di atas 50% diprediksi akan memicu krisis kredit yang parah di Eropa dan masalah pengangguran yang tinggi, apalagi jika dinyatakan default sehingga harus di write off. Situasi financial Eropa semakin tidak pasti
Referendum: Write Down atau Default?
Selain itu, bisa saja rakyat atau parlemen Yunani menolak kebijakan write down 50% utang atau bail out 130 milyar euro untuk utang mereka yang sangat besar tersebut. Hal ini perlu wacana kebijakan politik yang berani seperti referendum. Fakta empiris juga mendukung referendum dimana sebuah polling pendapat akhir Oktober 2011, menyatakan bahwa sebagian besar rakyat Yunani menilai pemangkasan utang 50% sebagai solusi negatif.
Jika referendum yang ditentukan pada 2-4 November 2011 ini dan direncanakan akan dilaksanakan pada awal 2012 maka sangat terbuka kemungkinan PM Yunani George Papandreou jatuh. Maka ketidakpastian politik akan semakin tinggi karena harus dilakukan pemilihan umum ulang dalam kondisi krisis ekonomi. Investor menilai situasi tersebut sangat rawan timbul gejolak social baru. Ketidak stabilan politik dan ekonomi Yunani diprediksi akan menular kebeberapa Negara seperti Italia dan lainnya sehingga menggoyahkan stabilitas keuangan Eropa dan shock di Global Financial Market termasuk BEI dan perbankan Indonesia.











