IMQ, Jakarta —
- Bank Indonesia (BI) diprediksi bakal mempertahankan posisi BI rate di level 6,5%, meski Badan Pusat Statistik (BPS) telah merilis data deflasi sebesar 0,12% untuk bulan Oktober 2011.
Demikian diungkapkan Pengamat Perbankan, Agustinus Prasetyantoko ketika dihubungi wartawan di Jakarta, Rabu (2/11).
Menurut Agustinus, meski ancaman kenaikan beras ke depan bakal meningkat, terlebih pasca banjir yang terjadi di Thailand, namun mungkin Bank Indonesia tidak akan menurunkan suku bunga acuannya.
"Perlu ada koordinasi antara BI dengan pemerintah melihat hal ini, jika ketersedian pangan baik, mungkin BI rate bisa diturunkan. Karena pada dasarnya tekanan inflasi cukup rendah," ulasnya.
Seperti diketahui Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Oktober 2011 terjadi deflasi sebesar 0,12% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 128,74.
Dari 66 kota IHK, 34 kota di antaranya mengalami deflasi sedangkan 32 kota mengalami inflasi.
Deflasi pada Oktober 2011, terjadi karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh turunnya indeks pada kelompok bahan makanan 0,35%, kelompok sandang 1,26% dan kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan 0,41%.
Sedangkan inflasi terjadi pada kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau 0,26%, kelompok perumahan, air, listrik, gas dan bahan bakar 0,20%, kelompok kesehatan 0,26% dan kelompok pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,30%.
Sementara pencapaian laju inflasi tahun kalender Januari-Oktober 2011 sebesar 2,85% dan inflasi year on year tercatat sebesar 4,42%.
Penurunan inflasi terutama disumbang oleh penurunan harga emas perhiasan yang turun sebesar 0,11%.











