IMQ, Jakarta —
- Seiring dengan pertumbuhan ekonomi hingga 6,5%, kinerja emiten pada tahun ini terbilang cukup bagus telihat dari beberapa perusahaan masih mencatat pertumbuhan yang signifikan.
Pengamat pasar modal, Teguh Hidayat mengungkapkan penurunan bursa saham karena pengaruh Eropa walau bagaimanapun merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari. Namun, kalau dilihat dari sisi lain, terkoreksinya IHSG justru kesempatan yang bagus untuk berburu saham-saham yang berfundamental baik karena harga murah.
"Pengaruh krisis Eropa masih terbatas pada sektor non rill seperti saham, sementara sektor rill masih berjalan lancar seperti biasanya," ujar Teguh Hidayat dalam risetnya 11 Oktober 2011.
Di Indonesia, sektor bisnis yang paling besar di BEI ada tiga, yaitu sektor perbankan, sektor natural resources terutama batubara, dan sektor perkebunan terutama kelapa sawit. Di sektor perbankan, posisi sebagai emiten dengan kinerja terbaik masih dipegang oleh BRI, disusul Bank Mandiri.
"Sementara di kelas second liner ada BTN dan Bank Bukopin, namun beberapa investor tertatik pada Bank BJBR karena murah," telisiknya.
Di sektor batubara, saham-saham yang bisa dicermati adalah Indo Tambangraya Megah, Resources Alam Indonesia dan Borneo Lumbung Energi & Metal, dan Adaro Energi. Khusus untuk dua saham terakhir tidak dapat direkomendasikan karena valuasinya sangat mahal, kendati fundamentalnya lumayan.
Sementara di sektor perkebunan, terdapat Jawa Agra Watti, Salim Ivomas Pratama, Sampoerna Agro, dan Tunas Baru Lampung yang tengah tertekan oleh penurunan harga CPO sehingga penurunannya dalam beberapa waktu tidak kalah dibandingkan dengan penurunan saham-saham batubara.
"Secara fundamental, tidak diragukan lagi saham-saham kelapa sawit memiliki kinerja kualitas kinerja dan prospek pertumbuhan sangat menarik," urainya.
Ketika IHSG dan harga CPO mulai pulih, saat itulah investor akan panen keuntungan dari saham-saham perkebunan.
Diluar sektor tersebut, saham tradisional seperti Astra Internasional dan Charoen Pokpkhan Indonesia juga masih layak dicermati. Di kalangan penny stock, saham- saham yang cukup bagus adalah Wintermar Offshore Marine (WINS), Surya Semesta
Internusa (SSIA) dan Alam Sutera (ASRI).
"Mengingat valuasi saham-saham di atas pada saat ini cukup murah, maka kalau Anda bermain pendek bisa masuk setelah IHSG koreksi cukup dalam minimal dua hari berturut-turut serta keluar bila rebound," sarannya.
Bila tujuannya untuk jangka panjang, maka Anda harus menunggu sebab biasanya setiap krisis akan mengalami puncaknya, dan krisis utang Eropa. Diasumsikan krisis Eropa sama seperti tahun 2008, maka IHSG masih beresiko untuk melanjutkan penurunannya.
"Memang dalam situasi seperti ini, kesabaran adalah aset yang bahwa lebih berharga dibanding dana cash sekalipun," tuntasnya.











