IMQ, Jakarta —
- Atlas Resources Tbk dan anak perusahaannya merupakan bagian dari 19 perusahaan yang beroperasi di bisnis pertambangan. Jejak rekam yang mumpuni dimanfaatkannya untuk menjaga eksistensinya pada pergelaran IPO November mendatang.
Altas memiliki 18 anak perusahaan, dengan 9 mengantongi IUP Lisensi produksi, 3 IUP lisensi eksplorasi di Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan serta 2 otorisasi pertambangan di Papua yang masih dalam proses konversi ke IUP.
Sejak didirikan, Atlas dan anak perusahaan telah memperluas portofolio batubaranya dari tiga menjadi empat tempat dengan luas mencapai 185.000 hektar (ha) yang terdapat di seluruh Indonesia.
Menurut laporan JORC, IUP yang dimiliki perseroan terdapat di daerah Berau Bara Energi, Diva Kencana Borneo, Gorby Putra Utama, Gorby Energy, dan Banyan Koalindo Lestasi dengan mengantongi cadangan batubara sebanyak 83,5 juta ton dengan sumber daya batubaranya mencapai 330,7 ton. Sementara, target kapasitas produksi 2,38 juta ton.
"Posisi akhir April 2011, Altas mampu memproduksi batubara sebanyak 427.976 MT dengan volume penjualannya 508.232 serta harga rata-rata penjualan AS$66," tulis analis e-Trading Securities Linda Lauwira dalam risetnya yang dipublikasi Oktober 2011.
Menurutnya, area konsesi Atlas di Berau Bara, Diva Kencana dan Hanson Energi Martapura, serta Muba Region mulai berproduksi pada kuartal IV-2011 sebanyak 2,75 juta ton dan setelah infrastrukturnya berjalan pada 2013 akan menghasilkan 5,1 juta ton per tahun.
"Daerah IUP lainnya dalam tahap eksplorasi atau tahap pengembangan sehingga dibutuhkan tim manajemen yang kuat untuk mengembangkannya," imbuhnya.
Saat ini, harga batubara internasional telah naik 27,8% dibandingkan periode tahun lalu atau rata-rata lebih tinggi 23,9%. Sedangkan harga jual rata-ratanya pun mengalami peningkatan 36,3% dari harga puncaknya 4 Juli lalu di level US$192,50.
"Artinya, Atlas mau tidak mau sangat terkorelasi dengan pasokan harga batubara internasional," tuturnya.
Bloomberg mencatat konsensus batubara di level US$105 dan angka tersebut telah mengalami penurunan, kemudian naik kembali ke level US$140 pada tahun depan. Secara histori, Atlas menjual batubaranya dengan harga diskon 44,3-63,6%.
"Jika kita menerapkan diskon harga dengan konsensus Bloomberg, maka harga jual batubara yang dihasilkan oleh Atlas berkisar US438,30-US$51 dalam kondisi bearish, sedangkan bullish berada di US$58,5-US$78," hitungnya.
Bukan hanya terkorelasi dengan harga batubara, Atlas juga dihadapkan dengan kenaikan biaya logistik sebab salah satu konsesinya terletak di pulau Sumatera. Hal ini disebabkan tidak ada infrastruktur yang memadai untuk mengangkut hasil produksi batubara sehingga harga yang dikeluarkan relatif mahal.
Di lain sisi, Atlas juga diuntungkan dengan permintaan dari India dan China guna mendukung ekspansi pabrik mereka yang tengah agresif. Bila kondisi ekonomi melambat, maka pemasok lainnya pun harus menggenjot produksinya untuk mengimbangi harga batubara.
Atlas akan menawarkan sebanyak 783,33 juta lembar saham setara dengan 25% dari modal disetor pada harga Rp1500-1900 per lembar. Dana hasil IPO akan dialokasikan untuk mendukung infrastruktur Muba Hub dengan alokasi belanja modal 40%, US$25 juta tuntuk restrukturisasi kontrak dengan Noble Group, serta 27,5% untuk akuisisi.
Berdasarkan laba semester I-2011 sekitar Rp92 miliar dibandingkan dengan harga penawaran saham perdana berkisar Rp1-500-1.900, maka menghasilkan PE 51-64 kali. Asumsinya, Atlas dapat mengalami pertumbuhan laba sekitar 500% menjadi Rp552 miliar pada 2012 dan diharapkan PE 2012 berkisar 9-11 kali.
"Ini adalah asumsi yang cukup besar, namun tergantung apakah ketepatan waktu infrastruktur dan proyek, serta faktor biaya seperti logistik yang akan dipotong menjadi marjin. Bahkan prospek batubara di atas US$100 akan memperkaya perusahaan," telisiknya.











