IMQ, Jakarta —
- Sebagai perusahaan penyedia jasa jaringan telekomunikasi terbesar di Indonesia, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) terus mengembangkan inovasinya ditengah ketatnya persaingan bisnis telekomunikasi.
Per 30 Juni 2011, TLKM merupakan menyedia layanan seluler terbesar di Indonesia dengan pangsa pasar sebesar 46%.
Dari sisi kinerja, pertumbuhan pelanggan perseroan selama semester I tahun 2011 tercatat meningkat 15,8% menjadi 102,30 juta pelanggan dibandingkan dengan periode sebelumnya sebesar 88,32 juta pelanggan.
Namun, peningkatan jumlah pelanggan tersebut tidak dibarengi dengan peningkatan laba bersih, dimana laba bersih perseroan tercatat turun 1,5% menjadi sebesar Rp5,94 triliun dibanding periode yang sama 2010 senilai Rp6,03 triliun.
Sedangkan pendapatan operasi tercatat sebesar Rp34,46 triliun atau hanya tumbuh 2,2% dari sebelumnya Rp33,71 triliun.
Analis Etrading Securities, Sally Agustina dalam risetnya yang dikutip IMQ mengatakan dilihat dari trendnya, bisnis seluler dan fixed line telah mengalami fase mature dan cenderung menurun, namun hal ini telah diantisipasi TLKM melalui pengembangan bisnisnya di bidang data, internet dan IT.
"Kebutuhan akan layanan internet yang berkembang pesat, membuat bisnis ini mengalami peningkatan yang cukup signifikan," ungkapnya.
Hingga semester I 2011 jumlah pelanggan broadband TLKM tercatat menunjukkan pertumbuhan yang sangat menggembirakan yaitu pelanggan Telkomsel Flash naik 74,4 % dari sebelumnya 2,97 juta menjadi 5,19 juta, pelanggan Speedy naik 41,2% dari sebelumnya 1,41 juta menjadi 2 juta, dan pelanggan Blackberry naik 381,4%dari sebelumnya 456.000 menjadi 2,19 juta.
"Sebagai salah salah satu pemilik fixed broadband (Speedy) dan mobile broadband (Flash) TLKM memiliki posisi yang kuat di pasar," tukasnya.
Menurut Sally, secara keseluruhan jumlah pelanggan TLKM mengalami peningkatan, namun ketatnya persaingan dengan berbagai operator, dimana banyak yang meluncurkan penawaran yang menarik dan kreatif, serta penetrasi kepada pelanggan menengah kebawah tentunya berdampak pada menurunnya tarif rata‐rata pendapatan per user (ARPU).
"Meningkatnya persaingan dengan berbagai operator telekomunikasi lainnya mengingat saat ini terdapat 11 operator telekomunikasi yang bersaing merebut pasar, sehingga mendorong TLKM untuk terus berinovasi," tuturnya.
Perusahaan telekomunikasi harus mampu bersaing dan memberikan penawaran yang menarik dan berinovasi untuk mempertahankan dan menarik pelanggan karena ketatnya bisnis ini akan berdampak pada terhambatnya pertumbuhan kinerja.
"Namun, kami optimis TLKM dapat terus bertahan mengingat posisinya sebagai salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia yang telah memiliki pangsa pasar yang luas serta merupakan perusahaan BUMN. Meski, pertumbuhannya akan lebih terbatas karena bisnis telepon seluler dan fixed line sudah memasuki fase mature," tambahnya.
Langkah lainnya dapat dilakukan perseroan lanjutnya, adalah melalui akuisisi perusahaan yang memiliki prospek yang baik.
"Yang perlu menjadi perhatian adalah TLKM harus cermat menilai perusahaan yang akan diakuisisinya, sehingga akuisisi tersebut memberikan dampak positif bagi perseroan kedepannya," terangnya.
Pada penutupan perdagangan Rabu (12/10), saham TLKM ditutup di level Rp7.300 dengan volume sebanyak 23,87juta lembar saham senilai Rp173,98 miliar.











