IMQ, Jakarta —
- Turunnya suku bunga acuan (BI rate) yang dilakukan Bank Indonesia sebesar 25 basis poin (bps) ke posisi 6,5% akan memberikan dampak nyata bagi tiga sektor industri yaitu properti, multifinace, perbankan.
Kepala Riset MNC Securities, Edwin Sebayang mengatakan turunnya suku bunga tersebut akan menciptakan peluang bagi sektor multifinance dan properti dalam melakukan peningkatan di sektor kredit pembiayaan, sementara dari sisi debitur dengan turunnya suku bunga maka kemampuan pembayaran kredit akan semakin lancar.
"Turunnya BI Rate artinya bunga deposito dan tabungan juga turun sehingga dari sisi perbankan biaya pengeluaran juga lebih rendah," tukasnya ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (11/10).
Selain itu lanjutnya langkah penurunan BI Rate ini juga mengindikasikan tekanan di pasar uang sudah mereda.
"Dengan turunnya BI rate dapat menggairahkan sektor riil dan pasar modal karena biaya yang dikeluarkan debitur jadi jauh berkurang dan orang memilih untuk berinvestasi di sektor riil dan pasar modal," tukasnya.
BI Rate diumumkan oleh Dewan Gubernur Bank Indonesia setiap Rapat Dewan Gubernur bulanan dan diimplementasikan pada operasi moneter yang dilakukan Bank Indonesia melalui pengelolaan likuiditas (liquidity management) di pasar uang untuk mencapai sasaran operasional kebijakan moneter.
Sasaran operasional kebijakan moneter dicerminkan pada perkembangan suku bunga Pasar Uang Antar Bank Overnight (PUAB O/N).
Pergerakan di suku bunga PUAB ini diharapkan akan diikuti oleh perkembangan di suku bunga deposito, dan pada gilirannya suku bunga kredit perbankan.
Dengan mempertimbangkan pula faktor-faktor lain dalam perekonomian, Bank Indonesia pada umumnya akan menaikkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan melampaui sasaran yang telah ditetapkan, sebaliknya akan menurunkan BI Rate apabila inflasi ke depan diperkirakan berada di bawah sasaran yang telah ditetapkan.











