IMQ, Jakarta —
- Bank Indonesia mencatat nilai tukar Rupiah mengalami pelemehan sekitar 2,42% menjadi Rp8.790 pada triwulan ketiga 2011, namun volatilitasnya meningkat.
Menurut Gubernur Bank Indonesai Darmin Nasution pelemahan nilai tukar ini masih sejalan denga pergerakan nilai tukar matang uang di negara kawasan. Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh meningkatnya faktor refiko akibat kekhawatiran terhadap prospek ekonomi dunia.
"Selain itu, meningkatnya permintaan valas untuk memenuhi impor turut menekan nilai tukar," ujar Darmin dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (11/10).
Ke depan, lanjutnya Bank Indonesia terus menjaga stabilitas nilai tukar guna mendukung terpeliharanya kestabilan makro ekonomi. Bank Indonesia juga tetap menempuh langkah-langkah stabilitas nilai tukar khususnya dampak dari gejolak pasar keuangan global.
"Keputusan ini diambil sejalam dengan kewajiban BI bahwa inflasi akhir tahun ini maupun tahun depan berada di bawah 5%," selorohnya.
Langkah-langkah tersebut, diakuinya sebagai antisipasi untuk memitigasi dampak penurunan kinerja ekonomi dan keuangan global terhadap kinerja perekonomian Indonesia. Bahkan, Dewan gubernur akan terus mencermati perkembangan ekonomi dan keuangan global serta menempuh respon suku bunga serta bauran kebijakan moneter dan makroprudensial lainnya.
"Hal ini semata-mata untuk memitigasi potensi penurunan kinerja perekonomian Indonesia tersebut dengan tetap mengutamakan pencapaian sasaran inflasi, yaitu 5%±1% pada tahun 2011 dan 4,5%±1% pada tahun 2012," urainya.
Inflasi IHK pada triwulan III-2011 tercatat sebesar 1,89% (qtq) atau 4,61% (yoy), lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tekanan inflasi ini berasal dari kelompok volatile food dan administered prices seiring dengan membaiknya pasokan, turunnya harga komoditas pangan internasional dan minimalnya kebijakan Pemerintah terkait harga komoditas strategis
Hari ini (11/10), Rapat Dewan Gubernur memutuskan untuk menurunkan suku bunga sebesar 25 basis pon menjadi 6,50%.











