IMQ, Jakarta —
- Penurunan BI Rate yang dilakukan Bank Sentral (Bank Indonesia) akan memberikan sentimen positif bagi emiten-emiten di sektor perbankan yang berada di Bursa Efek Indonesia.
Analis PT Finance Corporindo, Edwin Sinaga mengatakan penurunan BI Rate jelas memberikan dampak yang baik bagi sektor perbankan secara jangka panjang.
"Hal ini khususnya bagi kinerja emiten perbankan untuk kinerja ke depan," ungkapnya ketika dihubungi di Jakarta, Selasa (11/10).
Edwin menambahkan jika dilihat dari penurunan harga saham sektor perbankan yang signifikan pada beberapa waktu lalu bukanlah disebabkan faktor fundamental ekonomi Indonesia, namun lebih dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) yang dilakukan investor.
Selanjutnya Edwin, merekomendasikan untuk mengoleksi saham-saham unggulan sektor perbankan seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia (BBC), PT Bank Negara Indonesia (BBNI).
Sementara Analis Anugerah Securindo Indonesia, Viviet S Putri mengatakan penurunan BI Rate ini selain memberikan angin segar bagi sektor perbankan tentunya juga mendukung dari sektor ekportir.
"Penurunan suku bunga yang dilakukan BI merupakan sangat langkah yang sangat bagus, dimana negara-negara ekonomi maju juga telah menurunkan suku bunganya terlebih dahulu," ulasnya.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) akhirnya menurunkan bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) atau 0,25% ke posisi 6,25% untuk bulan Oktober 2011 ini, setelah bertahan di posisi 6,75% sejak 4 Februari 2011.
Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution mengungkapkan keputusan menurunkan BI Rate ini dilakukan setelah sebelumnya secara berturut-turut memberikan sinyal pemangkasan suku bunga lantaran inflasi yang terkendali.
"Inflasi di 2011 akan lebih rendah dan bergerak di bawah 5% seiring dengan koreksi harga komoditas global," terangnya.
Dengan pemangkasan 0,25 basis poin, berarti suku bunga acuan kembali ke posisi pada periode 9 Agustus 2009-4 Februari 2011 yaitu 6,5%.
Penentuan suku bunga di bulan Oktober ini terbilang cukup krusial, hal tersebut disebabkan selama bulan September 2011, pasar keuangan Indonesia sempat mengalami kegonjangan yang ditandai jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS).
Hal tersebut diikuti oleh volatilitas yang cukup tinggi di Bursa Indonesia dalam kurun waktu 1 bulan terakhir akibat kekhawatiran akan terjadinya krisis utang yang menimpa beberapa negara Eropa dan AS.
"Perhatian terutama ditujukan kepada dampak jangka pendek terutama bursa saham. BI memperhatikan pembalikkan modal asing di pasar keuangan domestik," tuturnya.











