IMQ, Jakarta —
- Gonjang-ganjing saham papan atas ketika diterpa badai koreksi pada pekan belakangan ini tak sanggup bangkit kembali. PT Perusahaan Gas Negara Tbk salah satunya tiba-tiba menyentuh level terendahnya dalam tujuh bulan di 2.600-an.
Perusahaan tercatat dengan kode emiten PGAS ini sempat bergerak di kisaran 4.000-an sepanjang April hingga Agustus 2011, namun terjerembab ke posisi 2.600-an tepatnya 2.675. Penurunan ini salah satu yang terburuk di antara saham-saham papan atas.
Pengamat pasar modal, Teguh Hidayat membeberkan selama ini, PGAS hanya memeroleh pendapatan dari jasa distribusi gas dan transmisi gas bukan memproduksi gas sendiri. PGAS sejak awal memang tidak didesain untuk menjadi perusahaan produsen, melainkan hanya distributor semata.
Namun, PGAS dapat dikatakan memonopoli pasar distribusi gas di Indonesia dengan kapitalisasi pasar hingga 93%, maka kinerjanya terbilang baik. Pertanyaannya seberapa baik? ROE-nya pada semester I ini tercatat 45,1% atau 'sekelas' dengan beberapa perusahaan consumer goods favorit investor seperti Charoen Pokhpan (CPIN) dan Japfa Compeef (JPFA).
"Meski PGAS memiliki kinerja bagus, namun kinerjanya terus mengalami perlambatan di tahun ini, bahkan cenderung turun atau mandek sepanjang tahun lalu," tutur Teguh dalam risetnya yang dipublikasikan 12 September 2011.
Laba PGAS pada semester I turun 11,2% dibanding dengan periode yang sama tahun sebelumnya naik tipis 1,2%. Mandeknya kinerja perusahaan pelat merah ini lantaran PGAS kesulitan memeroleh pasokan gas alam dari dalam negeri karena ketatnya persaingan. Disinyalir, produsen gas belakangan ini memiliki untuk mengekspor gasnya ke luar negeri.
"Kesulitan ini membuat kinerjanya lambat laut menurun diterpa tidak ada yang menjual gas ke PGAS," lirihnya.
Kendati demikian, PGAS tidak diam diri. Sejak tahun lalu, PGAS sudah merencana untuk mengambil pasokan alternatif, yaitu gas alam cair atau liquid natural gas (LNG) di mana PGAS tengah membangun dua proyek penampungan LNG di Jawa Barat dan SUmatera Utara serta membangun terminal penerima LNG yang baru mulai beroperasi pada 2012 mendatang.
Di luar itu, PGAS sedang mengembangkan proyek Coal Bed Methane (CBM), yaitu proyek konversi batubara menjadi gas metana. Tujuannya agar perusahaan memiliki alternatif pasokan gas diluar pasokan biasanya.
"Jika semuanya ini lancar, maka dalam satu atau dua tahun mendatang pasokan gas kembali lancar dan bisnis PGAS kembali tumbuh," telisiknya.
Bagi investor konservatif membeli perusahaan sama halnya membuktikan ketangguhan perusahaan untuk bangkit. Artinya, saat ini PGAs masih belum layak dikoleksi kecuali jika proyek-proyek LNG dan CBM telah berjalan dan meningkatkan kinerja perusahaannya tersebut. Sebaliknya, valuasi PER PGAS pada harga 2.600-an hanya 10,4 kali atas cukup murah untuk perusahaan sebagus PGAS.
"Secara valuasi, harga PGAS sudah murah dan Anda bisa mengakumulasinya dengan membeli sedikit demi sedikit," sarannya.
Namun, waktu yang tepat untuk mengoleksi PGAS untuk jangka menengah atau dalam waktu yang lama sebaiknya menunggu hingga PGAS mencatatkan kenaikan 10%. "Bila tercapai, maka harganya berpeluang untuk naik setidaknya ke posisi Rp3.500 kembali," tuntasnya.











