IMQ, Jakarta —
Sebagai pengembang pertama superblok terbesar, dalam perjalanan bisnisnya PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) terus mengembangkan proyek lainnya seperti perumahan, hotel dan resor yang semua terletak di daerah utama.
Memiliki wilayah pengembangan dan cadangan lahan (land bank) terbesar di Jakarta Central Business District (CBD) membuat perseroan selalu diperhitungkan dalam pengembangan properti dan infrastruktur yang terkait.
Selain itu, perseroan dan anak usahanya juga memiliki proyek dan pengembangan yang berada di wilayah Jakarta, Bogor, Bali, Malang, Sukabumi, Bekasi, Lampung, Batam, Balikpapan dan Tangerang.
Sepanjang semester I tahun ini perseroan berhasil mencatatkan laba bersih senilai Rp126,1 miliar atau melonjak 100,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp63 miliar.
Keberhasilan perseroan mencetak kenaikan laba bersih di atas 100%, dikontribusikan dari proyek City Property yang memberikan kontribusi pendapatan terbesar, yaitu sebesar 73,2%, sedangkan unit usaha Landed Residential, Hotel & Resort, dan Toll Road memberikan kontribusi pendapatan masing-masing sebesar 12,5%, 9,9%, dan 4,4%.
Analis eTrading Securities, Budhy Siallagan dalam risetnya yang dikutip IMQ mengatakan fokus utama dari ELTY adalah pengembangan proyek properti yang berintegrasi dengan infrastrukturnya.
Proyek-proyek perseroan khususnya pengembangan properti di bagian perumahan (residential) atau superblok masih relatif belum maksimal pengadaan infrastrukturnya, terutama dari akses utama menuju proyek yang sangat terbatas dan membuat kepadatan di titik-titik tertentu dari akses utama.
Sebagai contoh Bogor Nirwana Residence dan Rasuna Epicentrum, dengan lokasi dari masing-masing proyek tersebut memiliki keterbatasan akses baik dari sisi jumlah akses yang dimiliki maupun volume kendaraan yang cukup tinggi yang membuat titik di akses itu kadangkala menimbul kemacetan.
“Sinergi yang dimiliki oleh ELTY pada prinsipnya memang sudah merupakan suatu strategi yang sangat optimal apabila diimbangi dengan modal dan cash flow yang cukup,” ungkapnya.
Dari sisi pendapatan peningkatan sebesar 94,4% yang dibarengi oleh kenaikan COGS sebanyak 117,4% dari periode sebelumnya dapat terlihat dari gross margin yang semakin menurun, yaitu dari 44,3% menjadi 37,7%.
Dengan jumlah total aset yang sangat besar tersebut, ELTY dihadapkan dengan pilihan-pilihan, di mana perseroan bisa mengambil keputusan untuk mengembangkan cadangan lahannya lebih cepat lagi dan merencanakan divestasi bisnit unitnya seperti Bakrie Toll Road. Dengan begitu kinerja keuangan perseroan semakin membaik, di mana ROA dan ROE perusahaan juga bisa semakin meningkat.
Melihat dari P/E dan EPS (TTM) perseroan 19,8x masih di bawah rata-rata P/E Peers-nya 24,6x, sehingga ini masih memberi peluang bagi saham ELTY untuk bergerak sampai ke batas average peers-nya sebesar 5 poin.
Dengan memperhitungkan 40% discount dari NAV per Juni 2011, yaitu Rp210, maka harga saham ELTY ini masih diperdagangkan dengan P/E 25,5x atau sedikit di atas P/E rata-rata industrinya.
“Menurut kami masih pada batas yang cukup wajar untuk menahan (Hold) atau mengakumulasi beli Buy) saham ELTY ini,” ungkapnya.
Pada penutupan perdagangan kemarin (24/8), saham ELTY ditutup di level Rp142 per saham, dengan volume sebanyak 351,14 juta lembar saham senilai Rp51.31 miliar.











