IMQ, Jakarta —
Sebagai salah satu perusahaan eksplorasi yang memproduksi migas di Indonesia, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) kini terus berkembang menjadi pemasok utama gas bagi sektor industri di wilayah Jawa Timur dan pemasok utama bagi para pelanggan utama di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Dengan keahlian utama dalam manajemen reservoir, menggunakan teknologi modern yang inovatif serta teknik‐teknik pemboran terkini yang aman dan ramah lingkungan dalam melakukan eksplorasi dan produksi minyak dan gas di area seluas lebih dari 20 ribu km2, kinerja perseroan terus membaik secara langsung maupun melalui anak‐anak usaha yang dimiliki secara mayoritas. Kini perseroan mengendalikan kontrak pertambangan dengan kepemilikan portofolio minyak dan gas berskala besar.
Hingga saat ini, perseroan memiliki portofolio lapangan yang luas dengan cakupan produksi minyak dan gas yang beragam dengan cadangan terbukti dan terukur pada 2010 sebanyak 531 juta barel.
Hal tersebut menempatkan ENRG sebagai perusahaan migas yang tercatat di BEI dengan cadangan terbesar di Indonesia.
ENRG melalui anak usahanya saat ini merupakan operator dan pemilik sejumlah working interest di Blok KKS Malacca Strait, Blok KKS Bentu, Blok KKS Korinci Baru, Blok TAC Gelam, Blok KKS Tonga, Blok TAC Semberah, Blok CBM KKS Tabulako, dan Blok KKS Sangatta II.
Selain itu, ENRG juga memiliki working interest di Blok KKS Gebang JOB, Blok KKS Kangean dan KKS Masela yang diakuisisi dari Inpex Masela pada November 2010.
Terkait kinerja, pada akhir tahun lalu perseroan membukukan pendapatan usaha Rp1,24 triliun atau turun 13.48% dari 2009 yang sebesar Rp1,44 triliun. Sedangkan pada kuartal I tahun ini terlihat kinerja ENRG mulai membaik dimana perseroan membukukan penjualan bersih sebesar Rp421,5 miliar atau tumbuh 63% dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp257,1 miliar.
Analis e-Trading Securities, Andrew Argado dalam risetnya yang dikutip IMQ mengatakan perbaikan kinerja ENRG terus berlanjut berlanjut pada kuartal pertama 2011, yang mampu membukukan laba bersih sebesar Rp14,3 miliar.
"Inpex Corp telah memutuskan untuk menjual 30% kepemilikannya dalam proyek gas Masela kepada Royal Dutch Shell pada harga US$ 1.0‐2.0/boe. Dengan asumsi bahwa harga rata‐rata akuisisi tersebut adalah US $ 1.0/boe, maka akan memberikan nilai tambah bagi ENRG sebesar US$233 juta atau sekitar Rp49 per saham,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Andrew, strategi refinancing yang dilakukan perseroan merupakan suatu hal yang positif. Pelunasan utang yang dilakukan perseroan akan secara signifikan mengurangi beban bunga sehingga diharapkan mampu meningkatkan laba pada periode mendatang.
Di sisi lain, penyelesaian pembangunan fasilitas dan aktivitas pengeboran di blok KKS Kangean, lapangan minyak Pagerungan Utara dan lapangan gas di Blok KKS Bentu diharapkan dapat meningkatkan produksi migas ENRG.
“Penandatanganan kontrak jual‐beli gas dengan PLN dan Riau Andalan Pulp & Paper pada harga yang lebih tinggi dari sebelumnya akan meningkatkan pendapatan ENRG secara signifkan kedepannya’” ungkapnya.
Jika dibandingkan dengan perusahaan lain pada industri sejenis, ENRG memiliki estimate P/E FY2011 yang relative lebih tinggi (70.03x) dibandingkan dengan perusahaan lain pada industri sejenis.
Pada penutupan perdagangan Kamis, (28/7), saham ENRG ditutup di level Rp250 per saham, dengan volume sebanyak 447,85 juta lembar saham senilai Rp113.90 miliar.











