IMQ, Jakarta —
Persaingan yang ketat di bidang consumer goods membuat PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) bertransformasi menjadi sebuah perusahaan Total Food Solutions dengan kegiatan mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak para pedagang eceran.
Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, Indofood memperoleh manfaat dari ketangguhan model bisnisnya yang terdiri dari empat kelompok usaha strategis (Grup) yang saling melengkapi, antara lain PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), yang merupakan salah satu produsen makanan dalam kemasan, Bogasari yang memiliki kegiatan usaha memproduksi tepung terigu dan pasta.
Sementara sektor agribisnis dengan kegiatan usahanya terkonsentrasi pada Indofood Agri Resources Ltd, serta divisi distribusi yang mendistribusikan hampir seluruh produk konsumen Indofood dan anak-anak perusahaannya, serta berbagai produk pihak ketiga.
Hingga akhir kuartal I tahun ini, perseroan telah membukukan laba bersih mencapai Rp735,6 miliar atau naik 16,4% dibanding periode yang sama 2010.
Kenaikan laba bersih tersebut didorong oleh meningkatnya penjualan bersih konsolidasi perseroan sebesar 15,6% menjadi sebesar Rp10,76 triliun dibanding periode sama 2010 sebesar Rp9,31 triliun.
Analis Mega Capital, Ratna Lim, dalam risetnya yang dikutip IMQ, Selasa (12/7), mengatakan katalis-katalis positif pada kinerja INDF ke depannya masih akan solid, di mana diversifikasi produk membantu meningkatkan margin serta turunnya debt to equity ratio (DER) dan meningkatnya dividen.
“Kami menaikkan target harga INDF ke depan menjadi Rp6.100 per saham dari Rp4.150 per saham dimana mencerminkan PE 11E 15.2x dan PE 12F 14.3x.” ungkapnya.
Ratna juga menambahkan meningkatnya harga rata-rata CPO menjadi sekitar US$1.232 per ton pada triwulan I 20011 dibanding pada periode yang sama tahun sebelumnya senilai US$812,5 per ton serta naiknya harga karet memberikan dampak yang positif terhadap divisi agribisnis INDF di saat divisi lain kinerjanya tidak sebagus divisi ini.
Selain itu, IPO salah satu anak usaha INDF, yaitu PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), di mana dananya digunakan untuk membayar utang, membuat DER INDF menurun cukup drastis dari 2,45x pada tahun 2009 menjadi 1,34x pada 2010 dan berlanjut menjadi 0,88X pada triwulan I 2011.
“DER yang rendah ini membuat INDF mempunyai peluang yang lebih besar jika melakukan ekspansi usaha dengan melakukan pinjaman lagi,” tukasnya.
Pada penutupan perdagangan Senin (11/7) saham INDF ditutup di level Rp5.850 dengan volume sebanyak 12,76 juta lembar saham senilai Rp74.70 miliar.











